Prof. Saeki Natsuko sudah bisa berbahasa Indonesia dengan cukup lancar. Maklum, sejak 1994, beliau sudah sering ke Indonesia. “Hampir tiap tahun ke Indonesia,” ungkapnya dengan senyum riang gembira.
Ya, keahliannya sebagai seoang Indonesianis atau ilmuwan yang memperdalam soal ke-Indonesia-an, terutama di bidang keadilan dan kesetaraan gender serta perlindungan pekerja migran Indonesia di Jepang, mengharuskannya untuk memantau hal-hal yang terkait dengan Indonesia secara cermat. Sudah ada ratusan karya tulis terkait Indonesia yang dihasilkannya, baik dalam Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan sudah pasti dalam Bahasa Jepang.

Sebenarnya, beliau ke Indonesia untuk bersilaturahmi dan bertukar pandangan dengan Pengasuh PP Mahasina yang juga Ketua Majelis Musyawarah KUPI (Kongres Ulama Perempuan Indonesia), Nyai Hj. Badriyah Fayumi, dan berdiskusi juga dengan Direktur Rahima, Ibu Pera Sopariyanti yang kebetulan juga wali santri dari seorang alumni di PP Mahasina. Profesor ingin meminta pandangan kedua tokoh itu tentang pekerja migram perempuan dari Indonesia yang bekerja di Jepang, terutama jika ada persoalan di tempat kerjanya serta mendiskusikan solusinya, baik solusi keagamaan, kejiwaan/mental, hukum, maupun kesehatan reproduksi. Selama hampir dua jam Prof. Saeki berdiskusi dengan Bu Nyai Badriyah sambil memetakan alternatif solusi bagi persoalan pekerja migran perempuan di Jepang.
Sementara itu, calon doktor Waode Hanifah Istiqomah adalah orang Indonesia asli, namun mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Jepang, untuk strata 2 (S-2) dan sekarang untuk strata 3 (S-3). Beliau sudah 8 tahun berada di Jepang, untuk menyelesaikan studinya dan sambil bekerja sebagai peneliti di negeri Sakura.
Untuk itu, ketika berada di PP Mahasina beliau menyampaikan bagaimana cara mendapatkan beasiswa dari universitas di Jepang. Beliau menjelaskan agar santri dan pelajar yang mau ke Jepang harus belajar bahasa Jepang baik. Selain itu, harus mempersiapkan mental bahwa di Jepang kita akan menjadi minoritas. “Waktu saya ke Jepang, kita harus ekstra hati-hati untuk mendapatkan makanan halal, namun kini sudah lebih mudah,” begitu ungkap perempuan yang memakai hijab ini.
Profesor dan kandidat doktor tadi berpesan agar bangsa Indonesia mempertahankan diri sebagai bangsa yang ramah, penuh kasih sayang, suka bergotong royong, dan senang menolong orang lain, baik kepada orang yang dikenal, bahkan kepada orang tidak dikenalnya. “Di awal-awal ke Indonesia, saya terkenang dengan kebaikan seoarang tukang becak di Gunungkidul, Yogyakarta, yang memberinya air mineral dan memasak untuknya ayam yang dipeliharanya,” ungkapnya mengenang.
Mendengar cerita ini, Pengasuh PP Mahasina Nyai Hj. Badriyah Fayumi yang memandu acara meminta santri untuk membacakan hadist-hadist Nabi Muhammad tentang kasih sayang untuk sesama manusia, apalagi sesama teman. Para santri pun melafalkan hadist-hadist itu dengan fasih. Tak lupa, Pengasuh PP Mahasina berpesan kepada santri untuk mengamalkan hadist itu dalam kehidupan sehari-hari.

Acara di akhiri dengan pertanyaan dari para santri, 2 dari santri puteri dan 3 dari santri putera. Dua penanya dari santri putera berasal dari Kelas 7 yaitu ananda Aditya dan ananda Sultan. Tentu saja, santri Kelas 7 tidak bertanya tentang hal yang berat-berat, sesuai dengan keilmuwan Profesor, tapi bertanya tentang kapan dan bagaimana belajar Bahasa Indonesia serta tokoh Indonesia yang pernah ditemuinya. Profesor Saeki menjawab pertanyaan itu dengan lugas namun santai.

Terkait dengan tokoh Indonesia yang pernah ditemuanya, Profesor sangat terkesan dengan silaturahminya bersama KH. Abdurahman Wahid, saat beliau menjadi Presiden RI. “Beliau sangat sederhana dan tidak mau dianggap penting. Beliau tetap minta dipanggil Gus Dur saja, bukan tuan Presiden,” ungkapnya mengenang.
Tinggalkan Komentar