Info Pesantren
Selasa, 16 Jun 2026
  • Pendidikan Terintegrasi Kader Ulama- Pemimpin Berakhlak Qur'ani Berwawasan Kebangsaan
  • Pendidikan Terintegrasi Kader Ulama- Pemimpin Berakhlak Qur'ani Berwawasan Kebangsaan
27 Mei 2026

Padang Arafah Memanggil Kita Semua (2)

Rab, 27 Mei 2026 Dibaca 120x Acara
Oleh Zubairi Hasan, Pembina Tim Media PP Mahasina

Dari Bekasi, Santri PP Mahasina menyapa jutaan hati jamaah haji dengan doa yang tulus…….

Di sebuah sore yang hangat di Kampung Kemang, Pondok Gede, Kota Bekasi, ribuan kilometer dari Tanah Suci, suasana di Pondok Pesantren Mahasina terasa berbeda. Memang, di lembaga pendidikan yang asri ini tak memiliki hamparan pasir, juga  Tak ada tenda putih atau pakaian ihram.  Walakin getaran syahdu  suasana haji itu nyata di depan mata.

Rabu, 26 Mei 2026, pesantren yang dipenuhi para santri itu mendadak seolah terhubung langsung dengan jantung ibadah haji: Padang Arafah. Melalui kolaborasi bersama Badan Pengelola Keuangan Haji Republik Indonesia (BPKH) dan Republika.co.id, PP Mahasina menjadi tuan rumah live streaming suasana wukuf—momen paling sakral dalam ibadah haji.

Di tiga titik layar raksasa yang dipasang di area pesantren, para santri duduk khusyuk menyaksikan jutaan manusia berpakaian ihram berkumpul di bawah langit Arafah. Sebagian menatap tanpa berkedip. Sebagian lagi diam sambil menggenggam tasbih. Ada yang menunduk, membisikkan doa untuk kedua orang tuanya.

“Ya Allah, berilah kasih sayang kepada orang tua kami, sebagaimana mereka mengasihi kami sejak kecil, sampai kini, dan bahkan sampai yang akan datang,” lirihnya.

Ada juga yang berdoa: “Ya Allah berilah orang tua kami kesehatan lahir bathin serta keluasan rezeki sehingga mereka segera berangkat ke tanah suci.”

Tentu saja ada yang berdoa: “Ya Allah berilah orang tua kami kebahagiaan dan rezeki yang melimpah sehingga uang saku untuk anaknya di pesantren semakin meningkat.”

Yang jelas, untuk pertama kalinya,  banyak dari para santri yang merasa begitu dekat dengan Baitullah, rumah Allah di Mekkah. Sekitar dua juta jamaah haji berkumpul di Padang Arafah tahun ini. Sebanyak 221 ribu di antaranya berasal dari Indonesia. Namun sore itu, jarak antara Arafah dan Bekasi yang mencapai 8000 kilometer terasa sangat dekat.

“Ayo Rencanakan Haji Sejak Muda”

Acara yang dipandu host Sahil Mulachela, seorang penyiar radio, content creator, dan pengusaha asal Indonesia yang dikenal melalui konten komedi serta dinamika kehidupan rumah tangga. Sang host memulai acara dengan menghubungkan secara langsung antara Bekasi menuju Padang Arafah

Dari tengah panas Makkah yang mencapai 40 derajat celcius, Kepala Badan Pelaksana BPKH, Fadlul Imansyah, menyampaikan pesan yang sederhana tetapi menghentak:

“Berhaji saat masih muda dan sehat sangat penting agar ibadah itu bisa dilakukan dengan maksimal. Ayo rencanakan berhaji sejak muda” ungkapnya penuh semangat.

Kalimat itu terasa menancap kuat di hati para santri. Bukan sekadar tentang perjalanan spiritual. Tetapi tentang mimpi yang harus mulai dipersiapkan sejak dini, mulai dari sekarang.

Menuju Baitullah dengan Tabungan Awal Rp100 Ribu

Pengasuh PP Mahasina Nyai Hj. Badriyah Fayumi, Lc, MA menyampaikan pesan yang membuat banyak santri tersenyum penuh harapan. Beliau mengajak para santri mulai membuka tabungan haji meski dengan nominal kecil. Mari mulai membuka tabungan haji dengan saldo minimal Rp100 ribu.

“Mulailah niat berhaji dengan menabung minimal Rp 100 ribu. Jalankan dengan ikhlas dan rutin. Insya Allah kita dimudahkan untuk melunasi biayanya pada saat panggilan datang. Seandainya ada halangan yang menjadikan kita tidak bisa berhaji, insya Allah niat haji yang kita buktikan dengan rutin menabung itu sudah dicatat Allah dan kita mendapatkan pahala haji,” ungkapnya.

Di tengah kenyataan bahwa banyak orang muslim berasal dari kalangan sederhana, pesan itu terasa begitu membumi. Haji bukan lagi mimpi yang terlalu jauh. Ia dimulai dari niat. Dari recehan yang disisihkan.
Dari doa yang dipanjatkan diam-diam setelah salat malam.

Dr. Novi Wardi, ME menjabat Region Head di PT Bank Muamalat Indonesia Tbk yang turut hadir di PP Mahasina berharap agar santri dan masyarakat membuka tabungan haji di Bank Muamalat. Hubungan bank ini dengan BPKH sangat erat. Sejak 2021, BPKH merupakan pemegang saham pengendali Bank Muamalat dengan kepemilikan saham mencapai 82,6 persen.

Ketika Santri Belajar Literasi Keuangan

Acara ini bukan hanya menghadirkan suasana spiritual dari Arafah, tetapi juga membuka wawasan para santri tentang bagaimana dana haji dikelola.

Bapak Acep Riana Jayaprawira, ahli keuangan yang telah menyelesaikan pendidikan S-3 dan kini menjabat sebagai Anggota Badan Pelaksana BPKH Periode 2022–2027 menjelaskan bahwa dana setoran jamaah haji dikelola secara syariah dan penuh kehati-hatian.

Tahun 2026, BPKH mengelola dana mencapai Rp183 triliun dengan nilai manfaat sekitar Rp13 triliun. Sebesar Rp 5 Triliun dibagikan kepada 5,5 juta calon jamaah haji yang telah menyetor Rp 25 juta. Sedangkan Rp 8 Triliun digunakan untuk mendukung jamaah haji yang berangkat di tahun ini.

Fakta adalah sebagai berikut: Pertama, biaya riil penyelenggaraan haji mencapai Rp87 juta per jamaah. Kedua, jamaah hanya membayar sekitar Rp54 juta, namun biasa bekurang jika setoran awal sebesar Rp 25 juta dilakukan sejak lama sehingga menerima bagi hasil setiap tahun. Ketiga, Selisihnya ditutupi dari hasil pengelolaan dana haji oleh BPKH.

Para santri yang biasanya belajar fikih dan hafalan hadis sore itu juga belajar tentang ekonomi umat. Haji bukan hanya ibadah spiritual, walakin juga membutuhkan tata kelola keuangan yang amanah.

Meski terkait dengan persoalan dana, Nyai Hj. Badriyah Fayumi menegaskan ibadah haji saat ini mudah dan murah. Dulu, zaman kolonial untuk pergi haji perlu biaya setara 10-20 ekor sapi. Kira-kira senilai Rp 250-500 juta kalau sekarang. Makanya hanya sedikit yang bisa berhaji. Apalagi perjalanan kapal laut butuh waktu berbulan-bulan. Bisa sampai satu tahun pulang pergi.

“Maka, Alhamdulillah saat ini Pemerintah dan BPKH mengelola haji dan dana haji dengan semangat melayani rakyat, sehingga biaya haji yang dibayarkan jamaah menjadi murah. Makanya, ayo niat berhaji selagi muda, karena antrean saat ini mencapai 26 tahun,” ungkap ulama perempuan yang pernah menjadi Amirul Haj ini.

Terima Kasih yang Tulus dari Abah

Pengasuh PP Mahasina KH. Abu Bakar Rahziz, MA atau yang akrab disapa Abah mengucapkan terima kasih kepada BPKH dan media nasional republika.co.id karena mempercayakan pesantren ini sebagai tempat live streaming dari Padang Arafah. Abah mendoakan agar keluarga besar PP Mahasina selalu sehat, bahagia, dan mendapatkan rezeki melimpah yang berkah. “Semoga keluarga besar PP Mahasina segera bisa naik haji,” ungkapnya.

Selain itu, kyai yang akrab dipanggil Abah ini juga mendoakan agar BPKH semakin berkembang dan manfaatnya kepada masyarakat Indonesia terus meningkat. “Kalau BPKH maju dan besar, maka manfaatnya pasti akan kembali kepada umat Islam,” ungkapnya penuh doa.

Dan sore itu, Padang Arafah benar-benar mengetuk kalbu santri, guru, karyawan, dan seluruh keluarga besar PP Mahasina.

Azan Magrib yang menggema di ujung acara juga terasa sangat nikmat. Ada segelas es kuwut yang menyegarkan tenggorokan, sekaligus tanda bahwa puasa Arafah telah usai. Setelah salat Magrib pun tak kalah nikmatnya: ada sajian ikan Nila seukuran telapak tangan orang dewasa yang disiram dengan saos pecak asam manis, tempe bacem, irisan timun, krupuk, serta irisan semangka segar dengan warna merah merona.   Hanya satu kata: al-hamdulillah…..!

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Pondok Pesantren Mahasina Darul Qur'an Wal Hadits

Jl. Masjid Raya No 50, Kp. Kemang RT/RW: 01/07, Kelurahan Jatiwaringin, Kecamatan Pondokgede, Kota Bekasi, Jawa Barat 17411