Info Pesantren
Jumat, 17 Apr 2026
  • Pendidikan Terintegrasi Kader Ulama- Pemimpin Berakhlak Qur'ani Berwawasan Kebangsaan
  • Pendidikan Terintegrasi Kader Ulama- Pemimpin Berakhlak Qur'ani Berwawasan Kebangsaan
8 Agustus 2025

Sekali Duduk, Santri PP Mahasina Belajar pada 4 Tokoh Nasional Sekaligus

Jum, 8 Agustus 2025 Dibaca 705x Berita Terkini

Berbahagialah menjadi santri PP Mahasina! Dalam sekali duduk, mereka belajar ilmu dan menimba pengalaman dari 4 tokoh sekaligus, yaitu dari Dr. KH. Muhammad Faiz Syukran Makmun (Katib Suriah PBNU, Ketua MUI DKI Jakarta, dan Pengasuh PP Daarul Rahman, Jakarta, lalu dari Prof. Dr. Jenderal (Purn) H. Dudung Abdurrahchman, mantan KASAD dan alumni Program Doktoral Universitas Trisakti yang kini menjabat sebagai Staf Khusus Presiden Prabowo Subianto, dari Wali Kota Bekasi Tri Adhianto, serta dari KH. Abu Bakar Rahziz, MA selaku Pengasuh PP Mahasina. Dua hari sebelumnya, 5 Agustus 2025, santri PP Mahasina mendapatkan pencerahan dari Direktur Pondok Pesantren Kementerian Agama, Dr. Basnang Said, M.Ag.

Kali ini, dalam Lailatul Ijtima’ al-Akbar, 7/08/2025, santri PP Mahasina mendapatkan berkah dengan mendengarkan pengalaman dari seorang jenderal (purn) yang diwaktu kecil sudah menjadi santri dengan sarung dan peci. “Memasuki PP Mahasina dengan sambutan yang sangat meriah, mengingatkan saya di waktu kecil, waktu mondok di Buntet, Cirebon. Tak ada yang menyangka, seorang anak kecil bernama Dudung, memakai sarung lusuhdan peci belel, bisa menjadi seorang Jenderaln,” ungkap sang Jenderal (Purn).

Permulaan cerita ini tentu saja sangat inspiratif bagi seluruh santri, karena seorang anak dari pelosok desa di Cirebon, bisa menjadi tokoh nasional di Jakarta, puluhan tahun kemudian. Masak santri PP Mahasina yang berada di perbatasan  Jakarta-Bekasi tidak bisa menjadi tokoh nasional? Demikian kira-kira hikmah di balik ungkapan Jenderal (Purn) di atas.

Selanjutnya, dalam Tausiyah Kebangsaan, Jenderal (Purn) Dudung Abdurachman bahwa di dunia ini ada 4 macam orang yang paling berpengaruh, yaitu orang kaya, orang pintar, orang berkuasa, dan orang baik.Nah, orang yang sukses adalah orang yang baik, yaitu orang yang selalu memikirkan kebahagiaan orang lain. Bersyukurlah menjadi santri di PP Mahasina, karena bisa menjadi orang baik yang sukses kelak. Bukan hanya itu,  lanjutnya “santri PP Mahasina yang selalu dididik dengan akhlak mulia, bisa menjadi keempatnya sekaligus, yakni menjadi orang baik, orang pintar, orang kaya, dan orang berkuasa” ungkapnya penuh motivasi yang disambut dengan “amin” oleh para santri, baik diucapan maupun di hati.

Dari Dr. KH. Muhammad Faiz Syukran Makmun, santri belajar bagaimana mengolah ilmu ushul fiqih untuk menyelesaikan persoalan modern, seperti zakat lukisan yang berharga milyaran bahkan ratusan miliar, soal uang digital, dan lain sebagainya. Mukjizat Nabi Muhammad yang berupa al-Qur’an selalu mengajak umat Islam untuk membuka wawasan. “Karena itu, santri dan NU harus berada di garis terdepan untuk memberi penjelasan kepada umat tentang persoalan kekinian dan persoalan di masa mendatang,” ungkapnya memotivasi santri untuk terus belajar mendalam tentang Ushul Fiqih dan hal terkait.

Dari Walikota Bekasi santri belajar bagaimana membangun hubungan yang harmonis antara ulama dan umara, terutama dalam mengangkat derajat ekonomi umat Islam. “Sebentar lagi Kota Bekasi akan menjadi tuan rumah PON se-Jawa Barat. Ini berarti kontingen dari berbagai daerah membutuhkan penginapan, makanan, oleh-oleh, souvenir, dan lain-lain. Nah apa yang dilakukan oleh NU dan santri untuk mengantisipasi kondisi di atas,” ungkap Sang Bupati, seakan-akan menantang agar warga NU dan santri selalu berkreativitas dan berjiwa kewirausahaan (entrepreurship).

Sementara dari KH. Abu Bakar Rahziz, MA, santri dan warga NU belajar bagaimana seluruh warga NU bergerak untuk kepentingan umat, bangsa, dan negara. Pergerakan NU harus dimulai dari paling bawah, dari ranting, kecamatan, dan seterusnya. “Orang yang tidak bergerak akan mati. Sebaliknya orang yang bergerak akan mendapatkan kemudahan hidup dan keberkahan yang melimpah”, demikian pesan kyai yang akrab dipanggil Abah itu.

Acara diakhiri dengan makan nasi kebuli dan nasi mandi (khas India) bersama-sama. Selanjutnya, para santri kembali ke asrama dengan perut kenyang dengan makanan enak dan pikiran penuh dengan ilmu baru. Untuk santri senior, mereka tetap berada di tempat, membersihkan lokasi acara dan mengembalikan peralatan ke tempat masing-masing. Orang yang rapi dan rajin bersih-bersih biasanya kariernya lancar. PP Mahasina melatih santrinya untuk rapi dan rajin bersih-bersih…..

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Pondok Pesantren Mahasina Darul Qur'an Wal Hadits

Jl. Masjid Raya No 50, Kp. Kemang RT/RW: 01/07, Kelurahan Jatiwaringin, Kecamatan Pondokgede, Kota Bekasi, Jawa Barat 17411