Rabu, 22 April 2026, Jam 13.00, santri PP Mahasina sudah duduk rapi di Ballroom. Tak lama kemudian dari Kediaman Pengasuh KH. Abu Bakar Rahziz, MA terdengar suara hadrah dengan nyanyian “Thala’al Badru ‘Alaina”. Ketika suara itu memasuki kawasan santri puteri, para santri yang sedang duduk rapi, tanpa perintah, segera berdiri menyambut kedatangan tamu-tamu penting itu, sekaligus ikut serta menyanyikan lagu yang sama.
Para tamu itu adalah Pengurus MUI Pusat, sebagian besar, membidangi dakwah dan ukhuwah. Mereka mengadakan seminar di PP Mahasina bertajuk: “Pendidian Karakter untuk Pemimpin Indonesia Emas 2026.”
Pengasuh Pondok Pesantren Mahasina Darul Qur’an wal Hadits, Abah K.H. Abu Bakar Rahziz, MA menyambut hangat silaturahmi para pengurus MUI Pusat.
Beliau berpandangan bahwa di tengah perkembangan zaman pengaruh media sosial yang deras, dakwah melalui pesantren merupakan cara efektif dalam membentuk akhlak dan karakter generasi muda. Santri diharapkan mampu menjaga etos, moral, dan akhlak, serta menjadi pelopor dalam penggunaan media sosial yang bijak.
Ketua Majelis Ulama indonesia (MUI) Bidang Dakwah K.H. Syaiful Bahri menyampaikan urgensi akhlak pada zaman sekarang. Menurutnya, akhlak tidak hanya dipahami secara teori, tetapi harus melalui proses pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak mulia,” ujarnya.
MUI akan terus melakukan silaturahmi ke seluruh pesantren di Indonesia untuk mensosialisakan karakter bangsa yang kuat dan unggul, sehingga pada 2045, Indonesia menggapai masa keemasannya. Hal ini karena pemimpin di masa mendatang adalah mereka yang saat ini masih menjadi santri atau pelajar.
Reporter: Muhammad Ridho Al-Fathir, Arva Naraya Usman, Azka Muhammad
Tinggalkan Komentar