“Sarapan santri nomor satu, yang disukai pakai bubur, besok tanggal dua satu, santri akan berlibur”, demikianlah sebuah pantun yang disampaikan KH. Abu Bakar Rahziz, MA, saat membuka Tausiyah Menjelang Liburan Akhir Semester, Kamis 19 Juni 2025. Pantun ini disambut heboh dan riuh oleh para santri, karena mereka akan bersama keluarga lagi, sekurang-kurangnya selama 3 pekan dari tanggal 21 Juni sampai 13 Juli 2025.
Saat santri meminta pantun lagi, kyai yang akrab dipanggil Abah hanya menjawab: “Sebentar, mikir dulu”. Sesaat kemudian, Abah mengeluarkan pantunnya, yaitu: “Jangan terlalu banyak makan bubur, lebih baik makan ketupat. Kalau santri sedang berlibur, jangan lupa pada shalat.” Pantun ini disambut dengan tapuk tangan oleh para santri.
Selesai tepuk tangan, Abah mengeluarkan pantun berikutnya: “Pergi haji ke kota Mekkah, Pesantren Mahasina terlihat indah. Kalau santri ingin berkah, pada orang tua harus berkhidmah”. Lagi-lagi pantun ini mendapatkan sambutan meriah dari para santri.
Dari pantun itulah, Abah melanjutkan tausiyah. Pada intinya, sesuai dengan isi pantun, santri PP Mahasina harus tetap melaksakan shalat lima waktu diusahakan berjemaah dan lalu berbakti/mengabdi/membantu orang tuanya.
Selanjutnya, kyai alumni al-Azhar, Mesir, menjelaskan filosofi dari shalat yang mencerminkan keakraban antara manusia sebagai makhluk dan Allah sebagai Sang Khalik. Dengan shalat yang benar, maka Insya Allah kebutuhan manusia akan terpenuhi. Dalam shalat ada pernyataan untuk beribadah, hanya kepada Allah dan meminta pertolongan kepada-Nya. “Kalau kita menghayati pernyataan dalam al-fatihah dengan benar dan khusyu’, Insya Allah, akan menolong, saat kita menghadapi berbagai macam ujian. Dalam shalat juga ada ruku, sujud, dan lain sebagainya yang penuh dengan makna dan harus dilaksanakan dengan khusyu agar berdampak positif terhadap kehidupan kita di dunia.

Pengasuh PP Mahasina selalu mendoakan agar santrinya sukses di dunia dan akhirat
Kyai yang juga pimpinan tertinggi NU Kota Bekasi, juga menjelaskan kewajiban para santri untuk membantu orang tuanya, terutama untuk membersihkan rumah dan sekitarnya, membantu pekerjaan orang tua jika orang tuanya pedagang atau pelaku ekonomi kreatif, atau membantu ibu di dapur, dan pekerjaan lainnya yang dapat meringankan orang tua. “Orang tua adalah sumber keberkahan dan sumber karamah,” ungkap Abah dengan penuh semangat.
Ringkasnya, selama santri liburan, mereka harus tetap melaksanakan shalat tepat waktu dan membantu orang tua masing-masing. “Jadilah santri yang hakiki, mari kita makan nasi kebuli”, demikian Abah menutup ceramahnya, yang disambut dengan riang gembira oleh para santri. Mereka lalu berhadap-hadapan. Saat nampan nasi kebuli datang, mereka menyantapnya dengan penuh lahap. Tak lupa, mereka juga minum air zamzam yang asli yang merupakan oleh-oleh dari Nyai Hj, Badriyah Fayumi, MA yang baru saja datang dari Tanah Suci, setelah mendapatkan kepercayaan dari Kementerian Agama untuk mengawasi, memantau, dan mengarahkan petugas haji agar jamaah haji dari Indonesia mendapatkan pelayanan yang baik.
Tinggalkan Komentar