Info Pesantren
Senin, 28 Sep 2026
  • Pendidikan Terintegrasi Kader Ulama- Pemimpin Berakhlak Qur'ani Berwawasan Kebangsaan
  • Pendidikan Terintegrasi Kader Ulama- Pemimpin Berakhlak Qur'ani Berwawasan Kebangsaan
27 September 2026

Dengan Dukungan Penerbit Erlangga, PP Mahasina Adakan Pelatihan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dan Pembelajaran Mendalam

Ming, 27 September 2026 Dibaca 56x Berita Terkini

Agar santri semakin siap menghadapi berbagai persoalan di masa mendatang, PP Mahasina selalu meng-up grade tenaga pendidiknya dengan berbagai pelatihan. Saat guru melakukan pelatihan, para santri berlatih Pramuka. Maaf, di PP Mahasina tak ada istilah Jamkos (Jam Kosong).

 

Sabtu, 26 September 2026, PP Mahasina, Kota Bekasi,  menyelenggarakan Pelatihan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning), dari Jam 08.30 sampai dengan Jam 15.00 diselingi dengan satu kali istirahat. Acara ini diikuti semua guru, baik yang mukim maupun yang pulang pergi.

Hadir sebagai nara sumber utama adalah Inti Fahati, MA, Pengawas dari Kementerian Agama dan berpengalaman mengajar di sekolah internasional di Jakarta dan sekitanya, termasuk sekolah di mana muridnya sudah menjadi artis ternama di tanah air.

Perwakilan Penerbit Erlangga menerima kenang-kenangan dari Pengasuh PP Mahasina

Pengasuh PP Mahasina, Nyai Hj. Badriyah Fayumi, Lc, MA menegaskan bahwa guru PP Mahasina rata-rata mengajar secara linier sesuai dengan kesarjanaannya, sehingga mereka cukup menguasai materi yang diajarkan kepada para santri. Hanya saja, mereka perlu mengikuti perkembangan metode belajar mengajar terbaru, termasuk peraturan yang terkait.

“Karena itulah, PP Mahasina selalu mengadakan pelatihan dan up grading bagi para guru-gurunya,” demikian ungkap Nyai Hj. Badriyah Fayumi saat membuka acara pelatihan ini.

Dalam kesempatan ini, Inti Farhati menegaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) harus menjadi ruh dari madrasah dan pesantren di Indonesia. Lembaga pendidikan dapat dianggap telah melaksanakan KBC dengan baik, jika memiliki tiga ciri utama, sebagai berikut, yaitu: kepemimpinan di lembaga itu bersifat welas asih, mempunyai budaya inklusi, dan pembelajaran di dalamnya bersifat humanis.

Kepemimpinan yang welas asih adalah pimpinan mengelola sumber daya yang ada dengan kasih sayang, keteladanan, perhatian, dan menghargai semua warga lembaga. Budaya inklusi adalah lembaga menerima dan menghargai setiap peserta didik tanpa membeda-bedakan latar belakang, kemampuan, maupun kondisi mereka. Sedangkan pembelajaran yang humanis adalah guru memperlakukan peserta didik sebagai manusia yang memiliki potensi, perasaan, dan kebutuhan yang berbeda.

Selain soal KBC, guru PP Mahasina juga mendapatkan materi pelatihan  metode pembelajaran mendalam (deep learning) sebagai pendekatan dalam pembelajaran yang membuat peserta didik memahami konsep secara utuh, menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan nyata, mampu berpikir kritis, menerapkan apa yang dipelajari, serta melakukan refleksi atas proses belajarnya.

“Dengan pembelajaran mendalam, pelajar akan lebih siap untuk menghadapi berbagai macam persoalan kehidupan di masa mendatang,” ungkap Inti Farhati.

Secara epistimologis, pembelajaran mendalam merupakan pendekatan yang memuliakan pelajar dengan menekankan pada suasana belajar yang berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful), melalui olah olah pikir (intelektual), olah hati (etika/akhlak), olah rasa (estetika), dan olah raga (kinestetik), secara menyeluruh (holistik) dan terpadu (terintegrasi).

Dalam kesempatan ini, Inti Farhati juga menjelaskan soal urgensi project yang harus dilakukan oleh pelajar untuk mendukung pembelajarannya. Project itu penting agar pelajar dapat berpikir kritis atas persoalan yang ada di sekitarnya, lalu memberikan solusi kreatif atas persoalan itu, dengan berkolaborasi antar satu dengan yang lain, disertai proses komunikasi yang intensif di antara mereka.

PP Mahasina sendiri penuh dengan berbagai project yang mengharus santri untuk kritis, kreatif, berkolaboratif, dan komunikatif, seperti kegiatan lomba agustusan, pentas seni, daur ulang sampah, penanaman dan perawatan pepohonan, dan lain sebagainya. Untuk itu, Inti Farhati menyarakan agar kegiatan di luar sekolah itu masuk sebagai pendukung kegiatan intra, maka harus dilakukan asesmen.

Sementara itu, Dr. Yuan Martina Dinata, M.A., Pengawas Madrasah pada Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Bekasi yang turut dalam acara tersebut mengharapkan agar semua guru selalu meningkatkan kapasitas diri dengan berbagai macam keterampilan dan kompetensi di bidang pendidikan dan belajar mengajar. Karena persoalan ke depan semakin kompleks dan guru harus selalu mengantisipasinya dengan baik.

Meski para guru mengikuti pelatihan, para santri tetap berkegiatan. Caranya adalah kegiatan Pramuka yang biasa dilakukan di sore hari dimajukan menjadi di pagi hari. Apalagi pelatih Pramuka di PP Mahasina merupakan guru dari luar pondok. Jadi meski para guru sibuk, para santri tetap mendapatkan ilmu yang bermanfaat.

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Pondok Pesantren Mahasina Darul Qur'an Wal Hadits

Jl. Masjid Raya No 50, Kp. Kemang RT/RW: 01/07, Kelurahan Jatiwaringin, Kecamatan Pondokgede, Kota Bekasi, Jawa Barat 17411