BEKASI — Sekitar 60 ulama perempuan dari Kabupaten Brebes yang tergabung dalam Jam’iyah Perempuan Pengurus Pesantren dan Muballigah (JP3M) bersilaturahmi ke Pondok Pesantren (PP) Mahasina, Kota Bekasi, Kamis (24/9/2026). Kunjungan tersebut menjadi bagian dari agenda tahunan JP3M untuk mempererat silaturahmi sekaligus menimba pengalaman pengelolaan pesantren.
Para peserta merupakan pengasuh pondok pesantren, pimpinan majelis taklim, dan muballigah yang aktif berdakwah di tengah masyarakat. Mereka datang ke PP Mahasina di bawah koordinasi Ketua Cabang JP3M Kabupaten Brebes, Dr. Hj. Aqilatul Munawaroh, MPd.
Nyai Aqilatul mengatakan, kunjungan tersebut tidak sekadar menjadi agenda silaturahmi, tetapi juga upaya mencari keberkahan dan ilmu dari pesantren yang dikunjungi.
“Kami mengenal Abah dan Bu Nyai di PP Mahasina dari kejauhan saja, sebagai tokoh pendidikan, Pengurus MUI Pusat, dan sebagai tokoh yang penuh inspiratif. Sekarang, alhamdulillah kami bisa silaturahmi secara langsung di PP Mahasina,” kata Aqilatul.
Ia juga menyampaikan apresiasi atas sambutan keluarga besar PP Mahasina. Menurutnya, kunjungan tersebut diharapkan dapat membuka hubungan yang lebih erat antara JP3M Brebes dan PP Mahasina.
“Mudah-mudahan kunjungan ini bisa mengetuk hati Bu Nyai Hj. Badriyah Fayumi, Lc, MA untuk datang ke Brebes,” ujarnya.
JP3M merupakan organisasi perempuan pengurus pesantren dan muballigah yang memiliki kepengurusan di tingkat nasional, wilayah provinsi, hingga cabang kabupaten/kota. Organisasi tersebut juga telah memiliki cabang di luar negeri, antara lain di Turki dan Malaysia.
Dalam kegiatannya, JP3M secara rutin menggelar istighatsah, pengajian, santunan anak yatim dan dhuafa. Selain itu, setiap tahun organisasi tersebut mengadakan rihlah sekaligus silaturahmi ke sejumlah pesantren besar di Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut, Pengasuh PP Mahasina, Nyai Hj. Badriyah Fayumi, Lc, MA, menyampaikan terima kasih atas kunjungan JP3M Brebes. Ia juga meminta maaf apabila terdapat kekurangan dalam penyambutan para tamu.
Badriyah kemudian menceritakan perjalanan awal berdirinya PP Mahasina. Menurutnya, pesantren tersebut pada awalnya bahkan tidak memiliki tanah.
“PP Mahasina berdiri bukan di atas tanah kosong, melainkan tidak ada tanahnya sama sekali,” kata Nyai Badriyah.
Menurut dia, perkembangan PP Mahasina tidak terlepas dari pertolongan Allah dan dukungan masyarakat luas. Tanah pesantren diperoleh secara bertahap dari sejumlah tetangga yang menjual tanahnya, meskipun harus dibeli dengan harga tanah perkotaan.
Seiring berjalannya waktu, jumlah santri yang datang terus bertambah, dari puluhan hingga ratusan orang setiap tahunnya. Mereka kemudian diasuh, dididik, dan dibina oleh para pengasuh serta guru di lingkungan PP Mahasina. Apalagi sudah menjadi malkum bersama bahwa inti dari pesantren adalah pengasuhan, pendidikan, dan pengajaran.
“Ya, kita mengurusi bangunan sampai bangunin santri. Mengurus sarana fisik, juga mengurus fisik santri agar selalu sehat dan segar bugar,” ujarnya.
Di hadapan para pengasuh pesantren dan muballigah dari Brebes, Nyai Badriyah juga menyampaikan salah satu prinsip yang diterapkan dalam mengembangkan PP Mahasina, yakni memulai memikirkan dari tujuan akhir atau start from the end.
Menurutnya, lembaga pendidikan harus terlebih dahulu menentukan sosok lulusan yang ingin dihasilkan sebelum menyusun berbagai program pendidikan.
“Dalam dunia pendidikan, kita harus memikirkan terlebih dahulu mau seperti apa lulusan dari lembaga pendidikan yang kita dirikan nanti. Dalam dunia pendidikan hal ini biasanya disebut dengan standar kelulusan,” jelasnya.
Setelah tujuan akhir ditentukan, kata Nyai Badriyah, barulah lembaga menyusun berbagai kebutuhan untuk mencapainya, mulai dari program, personalia, hingga sarana dan prasarana.
“Nah, setelah kita menemukan tujuan akhir yang ingin kita capai, baru kita menyusun program, personalia, sarana-prasarana, dan seterusnya,” katanya.
Ia menambahkan, cara berpikir tersebut tidak hanya berlaku dalam pengelolaan lembaga pendidikan, tetapi juga dalam kehidupan. Setiap orang perlu mengetahui tujuan akhir yang hendak dicapai sebelum menentukan langkah-langkah yang akan dilakukan.
Sesi dialog menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian peserta. Sejumlah perwakilan JP3M mengajukan pertanyaan kepada Nyai Badriyah mengenai pengelolaan pendidikan di PP Mahasina.
Salah satu pertanyaan menyangkut sistem rekrutmen guru, khususnya apakah tenaga pendidik di PP Mahasina direkrut berdasarkan hubungan kekeluargaan atau menggunakan pertimbangan tertentu.
Nyai Badriyah menjelaskan bahwa PP Mahasina menetapkan sejumlah persyaratan bagi guru. Di antaranya merupakan lulusan pesantren, minimal berpendidikan sarjana strata satu (S-1), serta memiliki keahlian lain yang dapat diberikan kepada para santri.
Ia kemudian memberikan contoh sejumlah guru yang hadir dalam kegiatan tersebut.
Ustazah Ulya Silvia, yang bertugas sebagai pembawa acara, merupakan lulusan pondok pesantren dan Al-Azhar Mesir. Selain mengajar, ia juga memiliki kemampuan melatih master of ceremony (MC), pidato, dan keterampilan komunikasi lainnya.
Contoh lainnya adalah Ustaz Nasrul Latief. Lulusan pesantren dan program S-1 Bahasa Inggris tersebut juga memiliki kemampuan melatih paduan suara.
“Begitulah dengan guru-guru lainnya. Mereka lulusan pesantren, pendidikan minimal S-1, dan punya keahlian lain yang bisa diberikan kepada para santri,” tegas Badriyah.
Dalam kunjungan tersebut, para peserta juga menyaksikan penampilan Tim Paduan Suara PP Mahasina. Penampilan mereka beberapa kali mendapat tepuk tangan dari hadirin, terutama ketika membawakan lagu Sapta Jiwa Mahasina dan Shalawat Mahasina.
Setelah rangkaian acara selesai, kegiatan dilanjutkan dengan pemberian kenang-kenangan, ramah tamah, serta istirahat di kediaman pengasuh PP Mahasina.
Salah seorang peserta, Rohmatin Alawiyah, mengaku terkesan dengan kondisi PP Mahasina. Ia mengatakan, kesan tersebut antara lain muncul setelah melihat berbagai prestasi PP Mahasina melalui video yang ditampilkan dalam kegiatan.
“PP Mahasina sudah mempunyai prestasi yang banyak. Pondoknya juga rindang dan enak untuk belajar atau menghafal. Semoga semakin sukses,” ujarnya.
Tinggalkan Komentar