Info Pesantren
Rabu, 22 Apr 2026
  • Pendidikan Terintegrasi Kader Ulama- Pemimpin Berakhlak Qur'ani Berwawasan Kebangsaan
  • Pendidikan Terintegrasi Kader Ulama- Pemimpin Berakhlak Qur'ani Berwawasan Kebangsaan
8 Februari 2026

Santri Mahasina Belajar Langsung dari Presiden, Ketua Umum MUI, dan Menteri

Ming, 8 Februari 2026 Dibaca 326x Berita Terkini

Pengasuh PP Mahasina KH. Abu Bakar Rahziz, MA dan Nyai Hj. Badriyah Fayumi, MA, dipercaya menjadi salah satu Pengurus MUI Pusat.

Sabtu, 7/2/2026, di Masjid Istiqlal Jakarta, santri PP Mahasina mendapatkan kesempatan untuk belajar secara langsung dari Presiden Prabowo Subianto, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia KH. Anwar Iskandar, dan Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR) sekaligus Ketua Panitia Pelantikan Pengurus MUI 2025-2030, Bapak KH. Nusron Wahid.

Menteri ATR sekaligus Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN), KH. Nusron Wahid sudah tidak asing lagi bagi PP Mahasina. Selain merupakan sahabat dari Pengasuh PP Mahasina,  juga pernah datang ke PP Mahasina dan menjadi Pembina Upacara pada Hari Santri Nasional 2025, sekaligus memberikan pesan-pesan penting untuk kesuksesan santri PP Mahasina di masa depan.

Saat itu, Menteri Nusron Wahid berpesan agar santri menjadi ilmuwan/ulama pewaris Nabi Muhammad (mendalami ilmu al-ulama), menjadi ahli di bidang teknologi, informasi, dan enjinering (hikmatul hukamaa-i), serta menjadi pemimpin yang negarawan (siyasatu al-muluuki).

Bagi santri, Menteri Nusron Wahid merupakan salah satu teladan yang ideal, karena selain mahir membaca kitab kuning, juga bisa menjadi Menteri di bidang pertanahan dan tata ruang.

Dalam acara Pelantikan Pengurus MUI, Menteri Nusron Wahid menegaskan pentingnya kita semua untuk menjaga lingkungan hidup, serta memberikan tindakan tegas dan hukuman berat kepada individu atau perusahaan yang merusak lingkungan hidup. Seraya menyitir ayat al-Qur’an dengan fasih dan menjelaskan tafsirnya, Menteri Nusron mengatakan: “Perusak lingkungan dalam Islam hukumannya berat. Ada hukuman mati, potong tangan, dan diasingkan (dipenjarakan),” ungkap Menteri yang sering didaulat untuk membaca kitab kuning dalam beberapa haul kyai besar di Jawa.

Santri PP Mahasina menindaklannjuti pesan di atas dengan menjaga tanaman dan kebersihan yang ada di PP Mahasina. Sejak berdiri, PP Mahasina sangat concern pada kebersihan dan melatih santri untuk menjaga kebersihan.

Sementara itu, dari Ketua Umum MUI KH. Anwar Iskandar para santri belajar bahwa ulama dan santri tidak hanya belajar mencari ilmu, tapi juga harus mau terjun langsung membela dan membantu rakyat yang mendapatkan musibah. “MUI turun tangan secara langsung untuk membantu masyarakat yang mendapatkan ujian di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat,” ungkapnya penuh semangat.

Sementara itu dari Presiden Prabowo Subianto, santri mendapatkan wejangan agar hidup bersih lahir bathin, serta tidak melakukan korupsi. “Koruptor harus dilawan dan dibasmi dari bumi Nusantara,” demikian tegas Presiden disambut meriah para hadirin.

Selain itu. Presiden akan memberikan hadiah kepada umat Islam berupa tanah di dekat Bunderan HI seluas 4185 meter persegi dan nanti akan dibangun gedung 40 lantai. Gedung pencakar langit itu akan dipakai untuk badan/lembaga Islam seperti MUI, BAZNAS, dan lain sebagainya. Menurut penelusuran jurnalis www.pesantrenmahasina.com tanah seluas itu merupakan bekas Kedutaan Inggris yang berstatus hak pakai dari tahun 1961 dan kini secara resmi sudah menjadi milik Pemerintah Republik Indonesia di bawah Kementerian Luar Negeri.

Mendapatkan janji seperti ini, para guru di PP Mahasina langsung akan memotivasi santri untuk mengisi gedung 40 lantai tersebut. Untuk itu, santri harus belajar dengan sungguh-sungguh, dengan menjadi ahli agama, menjadi ahli teknologi dan enginering, serta menjadi pemimpin yang negarawan. Karena gedung keagamaan setinggi 40 lantai itu hanya akan diisi oleh 3 kelompok di atas.

Setelah menimba ilmu dari para pemimpin negara, para santri jalan-jalan di sekitar Monas (Monumen Nasional). Seorang santri bertanya kepada seorang guru Sejarah: “Ustaz, emas yang ada di Monas berapa kilo?”. Sang Guru menjawab: “Emas yang ada di lidah api di Tugu Punca Monas adalah 50 kilogram berkadar 24 karat. Emas lainnya seberat 22 kilogram, ada di dalam ruang Kemerdekaan, melekat pada pintu Gapura, burung Garuda, dan Kepulauan Indonesia. Jadi, jumlah total emas yang ada di Monas adalah 72 kilogram,” jawabnya tangkas, disambut kata “Subhanallah”, oleh santri sebagai tanda takjub.

 

 

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Pondok Pesantren Mahasina Darul Qur'an Wal Hadits

Jl. Masjid Raya No 50, Kp. Kemang RT/RW: 01/07, Kelurahan Jatiwaringin, Kecamatan Pondokgede, Kota Bekasi, Jawa Barat 17411