Dalam kesempatan tersebut, Pengasuh PP Mahasina KH. Abu Bakar Rahziz, MA menemani santri secara langsung, sekaligus memberi tausiyah di awal acara. Dalam momentum itu, Abah menjelaskan posisi seni budaya dalam Islam. Menurutnya, seni sangat penting untuk menjadikan hidup indah.
“Ilmu mengantarkan pada kebenaran, sedangkan seni menjadikan kebenaran seabagai sesuatu yang indah, bukan hal yang membosankan,” pesan Abah penuh makna.
Selanjutnya, Abah memotivasi para santri untuk mengasah hati agar mempunyai jiwa seni yang tinggi. “Dengan seni yang tinggi, barang bekas pun bisa menjadi indah, bahkan bisa dijual,” ungkap Abah penuh motivasi.
Abah juga menceritakan bagaimana di pasar on-line penuh dengan karya seni. Ada yang membuat bentuk wajah manusia dari kelapa kering yang sudah dibuang, ada yang membuat keterampilan dari barang bekas, dan lain sebagainya.
PP Mahasina, lanjut Abah, dibangun dengan cita rasa yang tinggi, mulai dari model bangunan, tata letak, penanaman pohon, pemilihan warna, dan lain sebagainya. “Semua dilakukan dengan penuh perhitungan dengan mempertimbangkan jiwa seni,” ungkapnya sambi mengenang perubahan PP Mahasina dari masa ke masa.
Untuk santri PP Mahasina, Abah mengharapkan agar mereka membuat karya seni dari apa yang sudah dibaca atau dihafalkannya. Misalnya, santri terbiasa melafalkan Asmaul Husna, Bismillah, atau ayat penting lainnya. “Akan lebih indah, jika santri membuat seni kaligrafi dari ayat-ayat di atas,” ungkapnya.
Secara keseluruhan, Abah mengajarkan kepada santri untuk mempelajari, mendalami, dan melaksanakan seni kehidupan. Seni kehidupan antara lain adalah seni mengelola diri, seni mengatur waktu, seni berteman, seni memimpin, seni menghilangkan rasa malas, seni bernegoisasi, dan lain sebagainya.
Dalam kesempatan ini, semua angkatan yang ada di PP Mahasina unjuk kebolehan. Ada yang menampilkan fashion show para pahlawan dengan pakaian khas daerah, drama, bernyanyi, tari daerah, tari dengan lampu, dan lain sebagainya. Yang patut menjadi catatan, Kelas 7 Putera dan Kelas 7 Puteri secara terpisah sudah berani menampilkan drama kolosal tentang perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan (Putera) dan perjuangan yang harus dilakukan kaum perempuan di masa kini (puteri). “Kopi pahit jangan diminum, kami pamit Assalamu’alaikum” ungkap perwakilan Kelas 7 Putera mengakhiri drama kolosalnya.

Kelas 7 tampil kolosal
Penampilan Kelas 8 puteri juga layak diapresiasi yang tampil penuh kegembiraan, dengan properti kertas warna warni yang lumayan banyak. Panggung pun penuh sampah. Tapi tenang, selesai acara, para penampil dari Kelas 8 Puteri membersihkan panggung dengan cepat, sementara sebagian lainnya memberikan permen kepada penonton. Abah yang ada di tengah penonton juga kebagian permen. “Masak Abah dikasih permen. Ada-ada saja nih santri Kelas 8 Puteri. Tak apalah, namanya juga pentas seni. Besok-besok Abah dikasih kabar aja, misalnya kabar kalau ada Kelas 8 Puteri yang juara pidato Bahasa Arab, Bahasa Inggris, atau juara lomba lainnya. Pasti Abah lebih senang….!”.

Seni Tari Lampu
Penampilan gabungan Kelas 8 dan Kelas 11 Puteri juga patut diapresiasi. Mati dipanggung dipadamkan, mereka lalu menampilkan tarian, namun yang terlihat hanya lampu dua warna. Indah dan menarik. Selamat dan sukses untuk semuanya. Yang penting bergembira sambil berlatih. Berlatih sambil bergembira. Tak tahunya nanti jadi juara…..
Tinggalkan Komentar