Info Pesantren
Sabtu, 07 Nov 2026
  • Pendidikan Terintegrasi Kader Ulama- Pemimpin Berakhlak Qur'ani Berwawasan Kebangsaan
  • Pendidikan Terintegrasi Kader Ulama- Pemimpin Berakhlak Qur'ani Berwawasan Kebangsaan
6 November 2026

Ketika Tazqiya Noor Hidayat Merancang untuk Go International!

Jum, 6 November 2026 Dibaca 55x Prestasi

Dari santri penerima beasiswa, lalu menjadi Juara MTQ DKI Jakarta, dan kini  bersiap menuju MTQ Tingkat Nasional Tahun 2027.  Inilah perjalanan Tazqiya yang menemukan jalan prestasi sejak dari PP Mahasina, sebuah pesantren di Kota Bekasi yang memberinya beasiswa. Berbagai prestasi yang sudah diraih sejak semester 2, membuatnya meraih sebagai Mahasiswa Berprestasi Fakultas Ushuludin Tahun 2026.

 

Prestasi besar sering kali berawal dari kesempatan kecil, kebiasaan sederhana, dan lingkungan yang memberi ruang bagi seseorang untuk tumbuh. Perjalanan Tazqiya Noor Hidayat menjadi salah satu contohnya. Alumni Pondok Pesantren (PP) Mahasina tahun 2024 ini membuktikan bahwa tantangan bukan penghalang untuk berprestasi. Selama ada kemauan untuk belajar dan ketekunan dalam berproses, maka kesempatan akan terbuka.

 

Menjejaki Panggung Internasional

Pada Mei 2025, ketika masih duduk di semester II UIN Jakarta, ia terpilih menjadi salah satu peserta International Conference Santri Mendunia. Kegiatan tersebut diikuti 210 peserta dari sejumlah negara, antara lain Thailand, Singapura, Malaysia, Turki, Mesir, dan Indonesia.

Dari 40 delegasi Indonesia, Tazqiya menjadi salah satu dari dua peserta yang berasal dari UIN Jakarta. Ia bahkan mendapat kepercayaan menjadi presenter ketika delegasi berada di Malaysia.

Dalam presentasinya, Tazqiya mengangkat tema kewirausahaan yang tetap berlandaskan nilai-nilai agama. Ia memperkenalkan Sapta Jiwa PP Mahasina sebagai prinsip yang dapat menjadi fondasi seorang pengusaha untuk meraih kesuksesan tanpa meninggalkan ajaran Islam.

Tujuh nilai tersebut meliputi kejujuran, keikhlasan, kejuangan, keterbukaan, kemandirian, kepedulian, dan kesederhanaan.

Baginya, nilai-nilai yang dipelajari selama menjadi santri bukan sekadar materi yang dihafalkan, melainkan prinsip kehidupan yang dapat diterapkan dalam berbagai bidang, termasuk dunia usaha.

Pengalaman menarik lainnya terjadi ketika berada di Thailand. Tazqiya mendapat kesempatan mengajar di salah satu sekolah Islam dengan menggunakan bahasa Arab dan bahasa Inggris. Dalam kesempatan itu, ia memperkenalkan materi tentang syarat-syarat memperoleh ilmu dari kitab Ta’lim Muta’allim, yang di PP Mahasina biasa dilantunkan para santri dengan penuh semangat.

Ia bahkan menyampaikan dan menyanyikan materi tersebut dalam tiga bahasa. Para pelajar di sekolah Islam tersebut menyambutnya dengan gembira.

Pengalaman itu menjadi bukti bahwa pendidikan pesantren dapat menjadi bekal untuk berinteraksi, berbagi pengetahuan, dan memperkenalkan tradisi keilmuan Islam kepada masyarakat lintas negara.

Karena pengalamannya itu, ia kini menjadi mentor untuk program International Conference Santri Mendunia, dengan tugas pembinaan agar  santri/pelajar yang mengikuti program tersebut mendapatkan manfaat yang maksimal.

 

Siap ke Panggung Internasional Melalui Jalur Berbeda

Kini, Tazqiya siap menuju panggung internasional melalui jalur berbeda, yaitu melalui karya tulis ilmiah.

Belum lama ini, Tazqiya berhasil meraih juara dalam cabang Karya Tulis Ilmiah Hadis (KTIH) pada Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Provinsi DKI Jakarta. Prestasi tersebut mengantarkannya memperoleh hadiah uang pembinaan sebesar Rp20 juta beserta hadiah lainnya dari sponsor. Lebih dari itu, kemenangan ini menjadi tiket baginya untuk mengikuti MTQ Nasional XXXII yang dijadwalkan berlangsung di Jakarta pada 2027. Setelah MTQ Nasional, siapa tahu bisa melangkah ke dunia internasional.

Kesempatan mengikuti kompetisi KTIH tingkat Provinsi DKI Jakarta datang melalui rekomendasi seorang mahasiswa senior yang telah berpengalaman mengikuti kompetisi nasional di bidang serupa, serta rekomendasi dari Dr. Sandi Santosa, M.Si., Ketua Jurusan Program Studi Ilmu Hadis UIN Jakarta.

Melihat ketekunan Tazqiya untuk belajar menulis, pasti banyak kalangan yang mengharapkannya untuk lebih maju dengan merekomendasikannya untuk mengikuti tantangan yang meningkat. Tazqiya menerima tantangan itu bukan sebagai beban, melainkan sebagai cara untuk maju berkembang.

Waktu persiapan yang tersedia untuk mengikuti KTIH ternyata sangat terbatasm, hanya sekitar 12 hari sejak menerima informasi. Dalam waktu singkat itu, ia harus membaca berbagai referensi, mempertimbangkan sejumlah alternatif judul, menentukan tema, serta berlatih menyusun karya ilmiah.

Tantangan sesungguhnya justru hadir ketika perlombaan berlangsung. Kompetisi dilaksanakan secara langsung di kawasan Tanah Abang, Jakarta. Selama lima jam, mulai pukul 09.00 hingga 14.00 WIB, peserta harus menyusun karya ilmiah tanpa akses internet. Mereka hanya diperbolehkan membawa referensi yang telah dipersiapkan sebelumnya. Ini berarti  peserta harus benar-benar memahami materi, menguasai referensi, dan mampu mengembangkan gagasan secara mandiri.

Di sinilah ketekunan dan kebiasaan belajar Tazqiya diuji. Hasilnya, ia berhasil keluar sebagai juara.

Kemenangan tersebut sekaligus membuka kesempatan lebih besar baginya untuk tampil di tingkat nasional pada 2027. Tazqiya pun memohon doa dari Pengasuh, para guru, dan seluruh keluarga besar PP Mahasina agar dapat mempersiapkan diri dengan baik dan meraih hasil terbaik dalam kompetisi mendatang.

 

Enam Tahun Menempa Diri di Pesantren

Ketekunan, kesungguhan, dan semangat belajar Tazqiya diperoleh setelah enam tahun menempuh pendidikan di PP Mahasina. Selama itu, ia dikenal sebagai santriwati yang memiliki semangat belajar tinggi dan senang mengembangkan kemampuan diri. Ia tidak hanya menjalani rutinitas pendidikan pesantren, tetapi juga berusaha mengambil sebanyak mungkin pengalaman dari setiap proses yang dijalaninya.

Salah satu bekal penting yang diperolehnya adalah keterampilan menulis karya ilmiah. Di Mahasina, penulisan karya tulis menjadi salah satu persyaratan kelulusan. Bagi sebagian santri, tugas tersebut mungkin terasa berat. Demikian pula yang pernah dirasakan Tazqiya.

“Waktu di Mahasina, rasanya susah banget untuk menyelesaikan satu subjudul. Namun setelah terbiasa, ternyata sangat membantu di perkuliahan maupun di ajang lomba,” tuturnya.

Pengalaman itu ternyata menjadi investasi berharga. Ketika harus berkompetisi dalam lomba KTIH tingkat Provinsi DKI Jakarta, ia tidak memulai semuanya dari nol. Kebiasaan membaca, menyusun gagasan, mencari referensi, dan menuangkan pemikiran dalam bentuk tulisan telah dilatih sejak di bangku pesantren.

Pengalamannya sebagai sekretaris Organisasi Santri Mahasina (Orsam) juga turut membentuk keterampilannya. Tugas organisasi membuatnya terbiasa bekerja menggunakan komputer, menyusun dokumen, serta menangani berbagai keperluan administrasi dan tulis-menulis.

Bekal tersebut menjadi semakin terasa manfaatnya ketika ia memasuki dunia perkuliahan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

 

Menjadi Santri Penerima Beasiswa Mahasina

Ada sisi lain dari perjalanan Tazqiya yang tidak kalah penting untuk diketahui. Ia merupakan salah satu santriwati yang memperoleh beasiswa pendidikan dari PP Mahasina melalui program afirmasi bagi anak-anak yang tinggal di lingkungan sekitar pesantren.

Dengan kata lain, Tazqiya pernah menjadi salah satu penerima manfaat dari kepedulian pesantren terhadap masyarakat terdekatnya.

Program ini merupakan bagian dari komitmen PP Mahasina untuk membuka akses pendidikan pesantren seluas-luasnya. Mahasina tidak ingin kesempatan memperoleh pendidikan berkualitas hanya dapat dinikmati oleh mereka yang memiliki kemampuan ekonomi memadai.

Karena itu, pesantren menyediakan berbagai skema beasiswa, antara lain beasiswa afirmasi bagi anak-anak dari lingkungan sekitar, beasiswa yatim dan dhuafa, beasiswa bagi para penghafal Al-Qur’an (hafidz dan hafidzah), beasiswa santri berprestasi, serta beasiswa bagi keluarga yang memiliki kakak dan adik yang sama-sama menempuh pendidikan di Mahasina.

Kisah Tazqiya menjadi salah satu gambaran bahwa program tersebut bukan sekadar bantuan biaya pendidikan. Lebih dari itu, beasiswa merupakan pintu masuk bagi anak-anak untuk memperoleh kesempatan berkembang, menemukan potensi, dan meraih masa depan yang lebih baik.

Dari seorang anak lingkungan sekitar yang mendapatkan kesempatan belajar melalui beasiswa, Tazqiya kini tumbuh menjadi alumni yang mengharumkan nama pesantren melalui prestasi akademik dan kiprahnya di tingkat internasional.

 

Bimbingan Belajar Gratis

Hal lain yang sangat dibanggakan Tazqiya PP Mahasina adalah komitmen lembaga itu dalam mendampingi pendidikan santri ketika mereka dalam proses untuk menyelesaikan pendidikan di pesantren.

Bagi santri kelas XII, Mahasina menyediakan program bimbingan belajar (bimbel) gratis sebagai persiapan menghadapi seleksi masuk perguruan tinggi. Pesantren juga memberikan pendampingan dan memfasilitasi santri yang berhasil diterima di perguruan tinggi negeri untuk mengakses berbagai program beasiswa yang tersedia.

Tujuannya jelas agar alumni PP Mahasina masuk perguruan tinggi negeri dengan beasiswa atau dengan dengan biaya kuliah rendah karena masuk melalui prestasi.

Sementara itu, bagi santri yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi swasta yang telah menjalin kerja sama dengan Mahasina, pesantren turut memfasilitasi akses beasiswa sesuai dengan program kerja sama yang tersedia.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa pendidikan di Mahasina tidak hanya berorientasi pada kelulusan santri dari pesantren, tetapi juga pada keberlanjutan pendidikan dan kesiapan mereka menghadapi masa depan.

Perjalanan Tazqiya menjadi salah satu contoh pentingnya kesinambungan tersebut. Pengalaman menulis yang diperoleh di pesantren membantunya menjalani perkuliahan, keterampilan berorganisasi melatih kemandiriannya, sementara nilai-nilai keislaman yang dipelajari menjadi bekal ketika berinteraksi di forum internasional.

Kini, prestasinya di bidang Karya Tulis Ilmiah Hadis membuka peluang baru untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, termasuk kesempatan memperoleh beasiswa S-2 bahkan S-3, baik di dalam maupun luar negeri. Tentu, peluang tersebut tetap perlu diperjuangkan melalui persiapan akademik dan prestasi yang berkelanjutan.

Selamat dan sukses, Tazqiya Noor Hidayat. Teruslah melangkah dan menginspirasi. Semoga prestasimu menjadi penyemangat bagi adik-adik santri Mahasina bahwa kesempatan, ketekunan, dan doa dapat mengantarkan seseorang menuju masa depan yang gemilang.

 

Artikel Lainnya

Oleh : Pesantren mahasina

BERITA FOTO DARI PKKM

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Pondok Pesantren Mahasina Darul Qur'an Wal Hadits

Jl. Masjid Raya No 50, Kp. Kemang RT/RW: 01/07, Kelurahan Jatiwaringin, Kecamatan Pondokgede, Kota Bekasi, Jawa Barat 17411