Info Pesantren
Kamis, 29 Okt 2026
  • Pendidikan Terintegrasi Kader Ulama- Pemimpin Berakhlak Qur'ani Berwawasan Kebangsaan
  • Pendidikan Terintegrasi Kader Ulama- Pemimpin Berakhlak Qur'ani Berwawasan Kebangsaan
28 Oktober 2026

Santri Mahasina Bahas Kesetaraan Gender Bersama 11 Aktivis Internasional

Rab, 28 Oktober 2026 Dibaca 111x Acara / Berita Terkini

BEKASI — Santri Pondok Pesantren Mahasina Darul Qur’an wal Hadits, Bekasi, berdiskusi dengan sebelas aktivis yang menjadi delegasi lembaga filantropi internasional mengenai kekerasan seksual, kesetaraan gender, dan perubahan sosial dalam kunjungan pada Rabu (28/10/2026).

Delegasi yang berkunjung ke Pondok Pesantren Mahasina terdiri atas perwakilan sejumlah lembaga filantropi internasional, yaitu Minderoo Foundation, Muirfield Foundation, dan MECCA M-POWER.

Dalam kesempatan diskusi dengan santri, ananda Nadhira Dini Hanifah (Kelas 12 MA), mengangkat persoalan dugaan kekerasan seksual terhadap perempuan yang terjadi di Indonesia. Ia mempertanyakan bagaimana masyarakat dapat melawan kekerasan seksual tanpa dianggap tidak menghormati guru atau pemimpin agama, terutama ketika korban dan orang-orang di sekitarnya takut berbicara karena pelaku memiliki kedudukan terhormat.

Nadhira juga menanyakan bagaimana keadilan dapat diperjuangkan ketika otoritas keagamaan disalahgunakan, serta bagaimana masyarakat bisa memahami dan mendukung korban tanpa membuat asumsi atau berbicara atas nama mereka?

“Today, we often hear sume cases about sexual harrasment against female students in islamic boarding school, especially in Indonesia, that allegedly comitted by religious leaders or teachers. Somehow, many victims or people around them are afraid to speak up because these ocnums are highly respected. My question is, how can we Stand up againts there cases about sexual abuse without being been as disrespectful toward religious. teachers or leaders? how can we seek justice when religious authority is being misured? Moreover, since we may not experience this kind of abure, how can we understand and support victims without making assumptions about them or speaking on their behalf?,” tanya Nadhira dengan Bahasa Inggris yang fasih.

Narasumber menilai pertanyaan tersebut sangat baik dan menunjukkan pemikiran kritis santri. Dalam jawabannya yang cukup panjang lebar, ia menekankan pentingnya keberadaan lembaga yang kuat untuk mencegah kekerasan terhadap perempuan sekaligus memberikan pendampingan kepada korban.

Diskusi juga membahas pandangan santri tentang kesetaraan gender. Ketika ditanya mengenai hubungan antara laki-laki dan perempuan, santri Mahesa Abdillah menjawab bahwa keduanya tidak perlu dipandang sebagai pihak yang berlawanan atau saling bersaing, melainkan sebagai sesama manusia yang dapat bekerja sama, bertukar pendapat, dan saling mendukung.

“We don’t see each other as oposing or rivaling genders, we see each other as decent human beings, we find things to collaborate with, opinions to share, and more,” ungkap Mahesa Abdillah dengan Bahasa Inggris yang fasih.

Para delegasi turut menanyakan perubahan yang ingin diwujudkan para santri di lingkungan mereka. Sejumlah santri menyebut kebiasaan malas yang dilakukan sebagian teman sebagai salah satu persoalan yang perlu diatasi karena dapat memengaruhi teman-teman lainnya.

“I want to change the habit of laziness that affects some of my friends because it can spread to others. Laziness is an enemy that students must fight against,” ungkap Fadia Almaira, santriwati Kelas 8 MTs Mahasina.

Pesan penting dari para aktivis internasional adalah agar para pelajar dan para santri melanjutkan pertemanan sampai terjun ke masyarakat untuk bersama-sama melawan segala macam penindasan terhadap kaum perempuan. Perjuangan secara sendiri-sendiri akan mudah dipatahkan. Tapi perjuangan bersama akan mudah meraih kemenangan.

Kunjungan ini menjadi ruang pertukaran pandangan antara para santri dan delegasi internasional mengenai perlindungan perempuan, kesetaraan gender, serta peran generasi muda dalam mendorong perubahan di lingkungan masing-masing.

 

 

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Pondok Pesantren Mahasina Darul Qur'an Wal Hadits

Jl. Masjid Raya No 50, Kp. Kemang RT/RW: 01/07, Kelurahan Jatiwaringin, Kecamatan Pondokgede, Kota Bekasi, Jawa Barat 17411