Pada tanggal 12, 13, dan 14 September 2025, PP Mahasina akan melaksanakan Sidang Pleno Reformasi Orsam. Pada momentum inilah, proses pergantian dan perubahan kepengurusan santri di PP Mahasina akan bergulir. Kelas 12 akan mengakhiri jabatannya, sedangkan santri Kelas 11 siap untuk melanjutkannya.
Tentu saja, sebelum peralihan ini berjalan, Pengurus ORSAM Masa Bhakti 2024-2025 harus menyampaikan laporan pertanggungjawaban, terkait dengan program kerja dan pengabdian selama satu tahun. Hal ini agar santri Kelas 11 yang akan melanjutkan estafeta kepemimpinan mengetahui hal-hal yang harus dipertahankan dan hal-hal yang harus diperbaiki.
Meski santri Kelas 12 sudah menyerahkan estafeta kepemimpinan kepada adik kelas, mereka harus segera aktif di organisasi baru, bernama PUSAKA (Perhimpunan Santri Kelas Akhir). PUSAKA harus fokus pada beberapa hal yaitu: (a) Sukses Masuk Perguruan Tinggi dengan Beasiswa, (b) Sukses Karya Tulis Ilmiyah (KTI), (c) Sukses Testing al-Qur’an, (d) Sukses Testing Kitab Kuning, (e) Sukses Khidmah Wajibah di bawah arahan Pengasuh secara langsung, serta (f) Sukses Haflah.
Dari berbagai program di atas, terlihat bahwa program kerja PUSAKA lebih banyak untuk kepentingan masa depan santri Kelas 12 sendiri. Karena itu, tidak ada alasan bagi santri Kelas 12 untuk menganggap remeh keaktifan mereka di PUSAKA.

ORSAM: Organisasi Santri Mahasina, PUSAKA: Perhimpunan Santri Kelas Akhir, dan KALAM: Keluarga Alumni Mahasina
Dalam tausiah kepada santri MA, 8 September 2025, Pengasuh PP Mahasina Nyai Hj. Badriyah Fayumi, Lc, MA menegaskan agar santri meneladani sifat yang wajib bagi para nabi, namun dengan tafsir baru yang kontekstual sesuai dengan perkembangan zaman. Sifat itu adalah shiddiq yang berarti santri harus berintegritas dalam pengertian jujur terpercaya, mempunyai kapasitas memadai, lalu mempunyai kapasitas dalam pengertian memiliki kemampuan dan keahlian sesuai bidangnya, serta memiliki akseptabilitas dalam pengertian dapat diterima oleh masyarakat di mana ia berada/bekerja.
Selanjutnya sifat nabi yang yang harus diteladani para santri adalah sifat amanah yang beratri santri harus mempunyai sikap bertanggung jawab serta serta bersungguh-sungguh untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya.
Sifat Nabi yang harus diteladani para santri berikutnya adalah sifat fahthanah yang berupa kecerdasan, baik itu kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan sosial, kecerdasan spiritual, dan kecerdasan lainnya. “Semua kecerdasan sangat penting bagi santri PP Mahasina, apalagi kecerdasan spiritual, karena akan menentukan kesuksesan para santri di masa depan,” demikian ungkap Nyai Hj. Badriyah Fayumi, dengan penuh semangat.
Sifat Nabi berikutnya yang harus dimiliki oleh para santri adalah tabligh. Dalam konteks ini, para santri harus mampu berkomunikasi atau menyampaikan ilmunya kepada masyarakat, baik melalui bantuan teknologi informasi (media), maupun secara langsung melalui tulisan atau melalui lisan.
“PP Mahasina melatih para santrinya untuk memiliki sifat di atas, salah satunya, melalui latihan kepemimpinan, dimulai sejak pertama masuk di pondok, sampai tamat, bahkan sampai menjadi alumni,” demikian ungkap Bu Nyai dalam tausiyahnya.
Tinggalkan Komentar