Info Pesantren
Minggu, 04 Okt 2026
  • Pendidikan Terintegrasi Kader Ulama- Pemimpin Berakhlak Qur'ani Berwawasan Kebangsaan
  • Pendidikan Terintegrasi Kader Ulama- Pemimpin Berakhlak Qur'ani Berwawasan Kebangsaan
3 Oktober 2026

Di PP Mahasina, Gus Kautsar Jelaskan Maulid Nabi secara Mendalam

Sab, 3 Oktober 2026 Dibaca 19x Acara

BEKASI — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren (PP) Mahasina Darul Qur’an wal Hadits, Jatiwaringin, Kota Bekasi, Sabtu (3/10/2026), menjadi momentum untuk kembali memahami makna mencintai dan meneladani Rasulullah SAW.

KH. Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar, atau yang akrab dipanggil Gus Kautsar, dalam tausiyahnya menyampaikan pandangan sejumlah ulama tentang Maulid Nabi. Dengan gaya santai, ia mengutip sejumlah kitab dan menjelaskan maknanya kepada para hadirin.

Gus Kautsar antara lain mengutip pandangan Abū Shāmah al-Maqdisī, ulama Syafi’iyah abad ke-7 Hijriah yang dikenal sebagai salah satu guru Imam an-Nawawi. Dalam pandangannya, Abū Shāmah menyebut salah satu bentuk kegiatan yang baik dilakukan setiap tahun pada hari yang bertepatan dengan kelahiran Rasulullah SAW adalah memperbanyak sedekah, amal kebajikan, menampakkan kegembiraan dan membantu kaum fakir.

Menurut Abū Shāmah, kegiatan tersebut, selain mengandung kebaikan bagi kaum fakir, juga menjadi tanda kecintaan dan pengagungan kepada Rasulullah SAW serta bentuk syukur kepada Allah SWT atas diutusnya Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Gus Kautsar kemudian mengutip Imam Syihabuddin al-Qasṭallānī (wafat 923 H/1517 M), ulama Syafi’iyah dan pensyarah Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Dalam al-Mawāhib al-Ladunniyyah, al-Qasṭallānī menggambarkan tradisi umat Islam dalam memperingati bulan kelahiran Nabi dengan jamuan, sedekah, memperbanyak amal kebajikan, menampakkan kegembiraan, serta membaca kisah kelahiran Rasulullah SAW.

“Semoga Allah merahmati seseorang yang menjadikan malam-malam bulan kelahiran beliau yang penuh berkah sebagai hari-hari raya,” demikian salah satu ungkapan yang dikutip Gus Kautsar dari al-Qasṭallānī.

Dari sejumlah pandangan tersebut, Gus Kautsar menekankan bahwa peringatan Maulid semestinya tidak berhenti pada seremoni. Ia mengaitkannya dengan pengamalan ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

“Al-Qur’an isinya adalah tentang perilaku, tentang bagaimana kita berakhlak,” ujar Gus Kautsar.

Karena itu, menurutnya, momentum Maulid seharusnya mendorong umat untuk memperbanyak kebahagiaan, amal kebaikan dan keteladanan terhadap akhlak Rasulullah SAW. Dengan demikian, peringatan Maulid diharapkan menjadi jalan untuk memperoleh keberkahan.

Gus Kautsar juga mengutip pandangan Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki dalam risalah Ḥaul al-Iḥtifāl bi Dzikrā al-Maulid al-Nabawī al-Syarīf. Ulama asal Makkah tersebut menyatakan kebolehan berkumpul untuk memperingati Maulid Nabi dengan mengisi kegiatan itu dengan mendengarkan sirah Rasulullah, membaca shalawat dan salam, mendengarkan pujian kepada Nabi, memberi makanan serta menghadirkan kegembiraan di hati umat.

Namun, pandangan al-Maliki tidak berarti kecintaan kepada Nabi hanya dapat diwujudkan melalui peringatan Maulid. Mengingat Rasulullah SAW dan membangun keterikatan kepada beliau, dalam pandangannya, tidak semestinya dibatasi pada satu malam atau satu bulan tertentu.

Dengan demikian, orang yang tidak mengadakan Maulid pun tetap dapat menunjukkan kecintaannya kepada Rasulullah SAW melalui berbagai cara: memperbanyak shalawat, mempelajari sirah, memahami dan mengamalkan sunnah, meneladani akhlak Nabi, serta memperbanyak amal kebajikan.

Bagi Gus Kautsar, inti dari pembahasan tersebut bukan sekadar memperdebatkan ada atau tidaknya sebuah acara, melainkan bagaimana kecintaan kepada Rasulullah SAW diwujudkan dalam perilaku. Momentum Maulid menjadi kesempatan untuk memperkuat kembali keteladanan itu dalam kehidupan sehari-hari.

 

Akhlak Nabi Harus Menjadi Perilaku Santri

Pengasuh PP Mahasina, KH. Abu Bakar Rahziz, MA, mengatakan penyelenggaraan Maulid Nabi di pesantrennya merupakan ikhtiar untuk mendapatkan rida Allah SWT dan syafaat Rasulullah SAW. Lebih dari itu, peringatan Maulid juga menjadi momentum untuk mengimplementasikan nilai-nilai yang setiap hari diajarkan kepada para santri.

“Membina akhlak merupakan pekerjaan paling susah,” ujar KH. Abu Bakar.

Menurutnya, akhlak tidak cukup hanya dipelajari melalui teori. Nilai-nilai akhlak harus dipahami, dihafalkan, dilatih, kemudian diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.

Karena itu, PP Mahasina telah menerbitkan kitab Al-Fiyatu Nabawiyah. Kitab tersebut berisi hadis-hadis Nabi Muhammad SAW yang berkaitan dengan akhlak dan perilaku sehari-hari. Hadis-hadis tersebut menjadi bagian dari pembelajaran para santri agar mereka tidak hanya mengetahui ajaran Rasulullah, tetapi juga mampu mengamalkannya.

“Ini merupakan salah satu cara kita menyebarkan akhlak Nabi Muhammad,” kata KH. Abu Bakar.

Dengan pendekatan tersebut, peringatan Maulid tidak berdiri sendiri sebagai kegiatan tahunan. Ia menjadi bagian dari proses pendidikan karakter yang berlangsung setiap hari di lingkungan pesantren.

 

Memperkuat Hubungan Ulama, Umara, dan Rakyat

Sementara itu, Wakil Wali Kota Bekasi Dr. H. Abdul Harris Bobihoe menilai semangat Maulid Nabi juga relevan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Menurutnya, semangat Maulid dapat menjadi pengingat bagi pemerintah untuk terus mendengarkan dan mewujudkan aspirasi masyarakat. Pemerintah, kata dia, harus selalu siap hadir di tengah masyarakat dan membangun komunikasi yang baik dengan berbagai elemen.

“Dengan semangat Maulid, kita meneguhkan bahwa pemerintah harus selalu siap untuk mewujudkan aspirasi rakyat,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya hubungan yang kuat antara ulama, umara, dan rakyat. Sinergi ketiganya diperlukan untuk membangun kehidupan masyarakat yang harmonis sekaligus mendorong kemajuan bangsa dan negara.

“Dengan Maulid juga, kita memperkokoh hubungan antara umara, ulama, dan rakyat untuk kemajuan bangsa dan negara,” katanya.

Peringatan Maulid di PP Mahasina akhirnya tidak hanya menjadi ruang untuk mengenang kelahiran Rasulullah SAW. Dari tausiyah Gus Kautsar, pesan KH. Abu Bakar Rahziz, hingga pandangan Wakil Wali Kota Bekasi, Maulid ditempatkan sebagai momentum untuk menerjemahkan kecintaan kepada Nabi ke dalam akhlak, kepedulian sosial, pendidikan karakter, serta hubungan yang lebih erat antara ulama, pemerintah dan masyarakat.

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Pondok Pesantren Mahasina Darul Qur'an Wal Hadits

Jl. Masjid Raya No 50, Kp. Kemang RT/RW: 01/07, Kelurahan Jatiwaringin, Kecamatan Pondokgede, Kota Bekasi, Jawa Barat 17411