Info Pesantren
Senin, 25 Mei 2026
  • Pendidikan Terintegrasi Kader Ulama- Pemimpin Berakhlak Qur'ani Berwawasan Kebangsaan
  • Pendidikan Terintegrasi Kader Ulama- Pemimpin Berakhlak Qur'ani Berwawasan Kebangsaan
25 Agustus 2025

Alumni PP Mahasina, Pondok Gede, Achmad Nanang Firdaus: Setelah Presentasi, Malah Diminta Seorang Direktur untuk Tinggal di Malaysia

Sen, 25 Agustus 2025 Dibaca 634x Berita Terkini / Prestasi

Achmad Nanang Firdaus adalah alumni PP Mahasina yang kini sedang menempuh pendidikannya dengan beasiswa di Program Sarjana Ulama Perempuan Indonesia (SUPI) di Institut Studi Islam Fahmina (ISIF), Cirebon. Baru-baru ini, selama sebulan dari 23 Juli sampai 22 Agustus 2025. Beliau bersama rombongan melakukan perjalanan ke Malaysia dan Singapura, dalam rangka Praktik Islamologi Terapan Internasional (PITI) 2025 dan  untuk memperluas wawasan internasional mahasantri tentang transformasi Islam, keadilan sosial, dan penghormatan terhadap keberagaman (Global Islamic Perspectives Journey (GIPJ).

Ketika berkunjung ke workshop Sisters in Islam (SIS) di Malaysia, Nanang bersama teman-temannya menonton film dokumenter tentang jilbab. Forum itu diikuti aktivis, akademisi, dan seniman Malaysia yang selama ini kampanye untuk hak-hak kelompok rentan. Setelah film selesai, perwakilan mahasantri SUPI diminta memberikan tanggapan. Saat itu,  Nanang memberanikan diri untuk berbicara serta menyampaikan pandangan tentang tafsir progresif atas ayat-ayat jilbab dan aurat. “Seringkali teks-teks agama dipahami dengan cara yang kaku dan bahkan menindas, sehingga seakan-akan Islam membatasi perempuan dan menyingkirkan mereka dari ruang sosial. Padahal, kalau dibaca lebih dalam, spirit Al-Qur’an justru mengajarkan keadilan, martabat dan kesetaraan”, ungkapnya tegas.

Ternyata pandangan itu disambut dengan penuh antusias dan selesai acara, banyak peserta forum yang mengajak selfie. Bahkan, Direktur Sisters in Islam (SIS) Malaysia, berkata: “Sudah, anak ini tinggal di sini saja, di Malaysia. Kami memang butuh anak muda yang bukan hanya paham teks, tapi juga bisa menafsirkan teks untuk berpihak pada yang lemah,” ungkapnya sambil tersenyum.

Ucapan singkat itu mungkin bercanda, tetapi bagi Nanang menjadi bentuk apresiasi yang dalam. “Itu artinya apa yang kami pelajari di SUPI—perspektif keadilan, tafsir yang ramah terhadap perempuan, dan keberanian berpikir kritis—diakui relevan di tingkat internasional,” ungkap Nanang kepada Tim Media PP Mahasina.

Apresiasi serupa juga dirasakan di Singapura. Seusai kunjungan dan dialog, kawan-kawan dari komunitas intelektual dan aktivis muda di Singapura menyatakan ingin melanjutkan forum mengaji bersama dalam sebuah halaqah yang memadukan tradisi pesantren dengan keberpihakan sosial. Mereka membutuhkan tulisan dan pandangan yang segar dan menyejukkan, terutama untuk membuka jalan bagi interpretasi Islam yang adil dan membebaskan.

Dari pengalaman-pengalaman itu, Nanang semakin sadar bahwa santri tidak boleh minder. Justru sebagai santri, kita harus bangga karena dunia internasional menaruh hormat pada kombinasi unik yang kita miliki, yaitu penguasaan teks klasik (kitab kuning) sekaligus keberanian untuk menafsirkannya secara relevan dengan isu-isu kemanusiaan. Inilah yang membuat kita diakui—bukan hanya karena hafalan atau bacaan kitabnya, tapi karena pembacaan itu diarahkan untuk membela dan memuliakan kelompok rentan dan kelompok tertindas.

Acara yang harus dilakukan oleh peserta selama di Malaysia dan Singapura cukup padat. Di Malaysia, berkunjung dan berdialog dengan Sisters in Islam (SIS), Musawah Global, dan Rohingya Women Development Network (RWDN). Sementara di Singapura, mereka berkunjung ke National University of Singapore (NUS), Dialogue Centre, Asian Civilisations Museum, dan Masjid Sultan.

Untuk bisa mengikuti program ini, seorang mahasantri harus memenuhi syarat akademik tertentu,  menghasilkan lebih dari 20 karya tulis yang dipublikasikan, mempunyai rekam jejak organisasi dan pelatihan, memiliki modal keilmuan pesantren, seperti hafalan al-Qur’an, hafalan hadis, bahkan kemampuan membaca teks kitab kuning, memiliki kemampuan di bidang olah digital, serta mempunyai kedisiplinan dan tingkat kerajinan yang tinggi.

“Alhamdulillah, selama mondok di PP Mahasina, hampir semua persyaratan itu dipenuhi. Hafalan saya mencapai lebih dari 800 hadis dan 18 juz al-Qur’an. Dari sisi organisasi, saya pernah menjabat sebagai Ketua ORSAM, Rais Mahasantri, hingga Koordinator KOMINFO di BEM ISIF. Saya juga menulis di berbagai media, termasuk Mubadalah.id, dan terlibat dalam Working Group on Women Preventing Violent Extremism (WGWC). Semua pengalaman ini membentuk personal branding saya sebagai mahasantri,” demikian ungkap Nanang penuh syukur.

Untuk itu, kepada santri PP Mahasina, Achmad Nanang Firdaus berpesan untuk belajar dengan tekun sejak sekarang. “Jangan pernah anggap remeh pengalaman di pesantren, karena hal itu akan menjadi bekal seumur hidup. Saya sendiri merasakan, apa yang saya dapatkan di Mahasina, dari disiplin hafalan, latihan musyawarah, sampai bimbingan penuh kasih dari Abah dan Bu Nyai, semuanya terbukti sangat membantu ketika kuliah, bahkan ketika saya harus tampil di forum internasional. Jangan sampai baru menyesal setelah lulus, karena pondok itu sesungguhnya adalah sekolah kehidupan yang tidak bisa dibeli dengan apapun,” ungkapnya penuh pesan.

 

Berikut profil lengkap Achmad Nanang Firdaus (Dibuat pihak kampus untuk mitra atau lembaga asing yang memerlukan)

Achmad Nanang Firdaus is a mahasantri from Bekasi, West Java, raised in a tightly-knit, multiethnic kampung community with strong Nahdlatul Ulama traditions. He is deeply driven by concerns over environmental degradation, youth vulnerability to violence and addiction, and religious leadership that fails to uphold justice. With a grounded character shaped by simplicity and openness, Nanang has memorized 18 juz of the Qur’an and dozens of core hadiths, and actively teaches at TPQ Al-Amien while serving as khatib and imam in pesantren and community mosques.

He is especially passionate about issues concerning children, women, and pesantren reform, which he sees as central to building a just and dignified Islamic civilization. Nanang’s achievements include being named Santri Teladan at pesantren level, initiating the Instagram platform @supiofficial_, and contributing as a writer for Mubadalah.id and the Working Group on Women Preventing Violent Extremism (WGWC).

His leadership spans student organizations, pesantren media, and youth forums, including as Chair of OSIS, Rais of Mahasantri, and KOMINFO Coordinator at the ISIF Student Executive Board. Known for his outgoing and “sok asik” demeanor, Nanang enjoys football, photography, content creation, and meaningful war films—not for the violence, but for their moral weight. He hopes to establish a pesantren-based education center and a charitable foundation that uplifts marginalized communities.

 

 

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Pondok Pesantren Mahasina Darul Qur'an Wal Hadits

Jl. Masjid Raya No 50, Kp. Kemang RT/RW: 01/07, Kelurahan Jatiwaringin, Kecamatan Pondokgede, Kota Bekasi, Jawa Barat 17411