Oleh Zubairi Hasan, Guru dan Pembina Tim Media PP Mahasina, Kota Bekasi
Rabu, 12 Agustus 2026, seluruh santri PP Mahasina, Kota Bekasi, melaksanakan 81 Khataman, dilanjutkan doa bersama, dalam rangka Memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Iindonesia yang ke-81. Acara ini juga merupakan agenda pertama dari rangkaian acara Agustusan di pesantren tersebut. Acara berikutnya adalah Upacara HUT Kemerdekaan RI, 17 Agustus 202, serta lomba-lomba yang menarik, menggembirakan, dan tentu saja menyenangkan.
*** ***
Dari rangkaian agenda itu, kita melihat bahwa PP Mahasina sudah tidak mempertentangkan lagi antara agama dan negara. Tidak ada dikhotomi antara agama dan negara karena keduanya memiliki ruang dan tujuan yang dapat saling menguatkan dalam kehidupan bermasyarakat. Agama memberikan nilai, moral, dan pedoman etika bagi manusia, sementara negara menyediakan tata aturan dan kelembagaan untuk mengatur kehidupan bersama.

Dalam konteks Indonesia, nilai-nilai keagamaan seperti keadilan, kejujuran, tanggung jawab, persaudaraan, dan penghormatan terhadap sesama justru dapat menjadi modal penting dalam membangun kehidupan berbangsa yang baik. Karena itu, menjalankan kehidupan beragama dan menjadi warga negara yang baik bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan.
Karena itu, sebagaimana tercermin dari 81 kali khataman santri PP Mahasina, hubungan agama dan negara dibangun melalui kontribusi dan kerja sama dalam wilayah masing-masing. Negara memberikan ruang bagi masyarakat untuk menjalankan keyakinannya sekaligus menjamin kehidupan bersama yang tertib dan adil, sedangkan umat beragama turut mengisi kehidupan bernegara dengan nilai-nilai kebaikan.
Kita perlu mengingat sejarah bahwa ketika agama dan negara mengalami dikhotomi, maka yang terjadi adalah konflik yang merugikan rakyat, seperti kita lihat dari pemberontakan Darul Islam/Negara Islam Indonesia (DI/NII), Pemerintahan Revolusioner Republi Indonesia (PRRI), dan lain sebagainya.
Sejarah kelam itu tidak boleh terjadi lagi di bumi Indonesia, baik di masa kini maupun di masa mendatang.
*** *** ***
Dari acara 81 kali khataman santri PP Mahasina, kita juga melihat bawah umat Islam harus mensyukuri Kemerdekaan RI sebagai nikmat yang luar biasa besar dari Allah SWT. Para pendiri bangsa, termasuk tokoh-tokoh dan ulama Muslim, turut berperan dalam perjuangan merebut serta mempertahankan kemerdekaan. Karena itu, kemerdekaan dapat dimaknai sebagai amanah yang memungkinkan umat Islam menjalankan ibadah, pendidikan, dakwah, dan kehidupan bermasyarakat dengan lebih leluasa.
Namun, rasa syukur atas kemerdekaan tidak cukup diwujudkan melalui perayaan seremonial semata. Umat Islam perlu mengisinya dengan berkonstribusi mengatasi kelemahan bangsa Indonesia di antara bangsa-bangsa asing lainnya, terutama kelemahan di bidang ekonomi dan teknologi.
Kini, bangsa Indonesia menghadapi penjajahan model baru. Secara ekonomi bangsa Indonesia seperti terjajah oleh mata uang asing, dalam hal ini Dollar Amerika Serikat. Begitu Dollar AS naik, barang-barang penting, seperti bensin, suku cadang kendaraan, dan komoditi impor lain segera naik. Pasar modal kita seperti dijajah oleh investor asing. Buktinya, begitu Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengurangi investasinya di Indonesia, Indek Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia langsung runtuh.
Secara teknologi juga kita terjajah oleh bangsa asing. Sampai kini, dalam peralatan berbasis teknologi, nyaris mustahil kit menemukan merk atau brand yang berasal dari dalam negeri. Kalaupun ada merk lokal, ternyata teknologinya berasal dari negara asing.
Al-Qur’an penuh dengan ajaran-ajaran baik tentang ekonomi dan teknologi. Ada kisah Nabi Yusuf yang mampu mengatur keuangan Kerajaan Mesir sehingga bebas dari krisis moneter yang melanda dunia saat itu. Ada juga kisah Nabi Daud yang mampu melunakan besi sehingga bisa diolah menjadi peralatan untuk mempermudah kehidupan. Tentu saja ada kisah Nabi Muhammad yang wahyu pertamanya memerintahkan dirinya dan umat Islam untuk membaca. Iqra’: bacalah!
Untuk itu, maka santri, umat Islam, dan seluruh komponen bangsa harus berjuang keras agar ekonomi Indonesia semakin maju dan teknologi yang mempermudah kehidupan semakin berkembang.
*** *** ***
Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta nomenklatur kebangsaan lainnya penuh dengan nilai-nilai Islam, seperti ketuhanan, kemanusiaan, keadilan, kerakyatan, musyawarah, dan lain sebagainya merupakan inti dari ajaran Islam, bahkan istilah itupun berasal dari khazanah Islam.
Karena itu, wajib bagi umat Islam untuk berjuang agar bangsa Indonesia merdeka dalam bidang ekonomi dan teknologi. Kemerdekaan dalam segala bidang merupakan inti dari perjuangan para pahlawan dan pendiri bangsa. Seluruh komponen bangsa harus bergerak serentak untuk mencapai tujuan itu.
Tinggalkan Komentar