Info Pesantren
Minggu, 04 Okt 2026
  • Pendidikan Terintegrasi Kader Ulama- Pemimpin Berakhlak Qur'ani Berwawasan Kebangsaan
  • Pendidikan Terintegrasi Kader Ulama- Pemimpin Berakhlak Qur'ani Berwawasan Kebangsaan
4 Oktober 2026

Banyak Belajar dan Belajar Banyak dari Kedatangan Gus Kautsar

Ming, 4 Oktober 2026 Dibaca 13x Acara

Sejumlah Santri Putra Kelas 8 itu mengangkat pot bunga lalu meletakkannya secara rapi di depan panggung out door di kawasan santri putri. Sebagian santri putri juga terlihat menyapu dan membersihkan halaman, atau menyapu dan mengepel musalla. Sementera sebagian santri yang cukup senior mengangkut dan membentangkan karpet hijau di seluruh halaman. Satu lagi, santri putri kelas  7 tak mau ketinggalan, mereka merapikan rak-rak al-Qur’an dan memilah-milah sobekannya, lalu menempatkannya pada wadah khusus yang sudah disediakan.

Santri lainnya bersih-bersih di asrama atau kawasan masing-masing, sesuai dengan penugasan yang telah ditentukan. Para guru putra dan putri juga terlihat mondar-mandir membantu para santri melakukan kerja bhakti.

Suara tawa yang lepas terdengar di beberapa kawasan yang menandakan bahawa mereka melakukan kerja bhakti dengan riang gembira.

Di kejauhan, terdengar santri putri latihan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Ya Lal Wathan, dan Salawat Mahasina.

Itulah suasana yang terjadi di PP Mahasina, Pondok Gede, Kota Bekasi, sekitar Jam 13.00 WIB, Jumat, 2 Oktober 2026, atau satu hari sebelum perhelatan Maulid dengan pembicara utama KH. Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar, akrab dipanggil Gus Kautsar.

Beliau adalah seorang ulama dan pendakwah dari Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Mojo, Kediri, Jawa Timur. Beliau  merupakan putra KH. Nurul Huda Djazuli, salah satu pengasuh Al-Falah Ploso. Sejak kecil, Gus Kautsar belajar ilmu agama dan kitab-kitab Islam di bawah bimbingan ayahnya secara langsung. Ia juga dikenal luas sebagai pendakwah dengan gaya penyampaian yang santai, komunikatif, sering menggunakan bahasa Jawa, serta diselingi humor sehingga kajian-kajiannya mudah diterima berbagai kalangan.

Apapun ceritanya, bagi para santri PP Mahasina, kedatangan tamu penting ini merupakan wahana untuk belajar dan mengasah diri dalam kehidupan bermasyarakat, baik sebelum, saat hari H, atau setelahnya.

Sebelum hari H, santri belajar bagaimana bekerja sama dalam team work yang kuat, belajar mencari solusi atas persoalan yang muncul, serta belajar mengatur waktu dengan baik. Karena di Hari Jumat pun, kegiatan belajar mengajar di PP Mahasina masih berjalan seperti biasa.

Pada hari H, santri belajar dari berbagai tokoh yang hadir. Mereka mendengarkan pesan kenegaraan dan hubungan ulama, umara, dan rakyat dari Wakil Wali Kota Bekasi, Dr. H. Abdul Harris Bobihoe, belajar urgensi Maulid Nabi untuk santri dari KH. Abu Bakar Rahziz, MA, serta belajar hakikat dan filosofi Maulid Nabi dari Gus Kaustar, dengan bahasa yang nyantai.

“Ayo nikmati dengan kegembiraan makanan yang disediakan panitia, karena di dalamnya penuh dengan keberkahan,” ungkap Gus Kautsar.

Ungkapan itu sederhana, tapi mempunyai makna mendalam. Gus Kautsar menjelaskan bahwa makanan yang disajikan dalam majelis Maulid Nabi Muhammad ﷺ memiliki nilai keberkahan tersendiri. Bahkan, makanan yang sangat sederhana, seperti “sebiji garam” pun penuh dengan keberkahan. Sesuatu yang sederhana ketika dihidangkan dengan niat yang baik dalam majelis yang baik mengandung banyak nilai kebaikan.

Gus Kautsar mengutip sebuah keterangan yang dinisbatkan kepada Imam Fakhruddin al-Razi ulama besar penganut mazhab Imam Syafii yang hidup pada tahun 1100-an. Beliau menjelaskan bahwa pembacaan Maulid Nabi meski dengan hidangan sebiji garam, biji-bijian, atau makanan lainnya akan mendatangkan keberkahan bagi yang menyumbang atau yang bagi memakannya atau bagi panitia yang mengaturnya.

“Ayo semuanya makan,” ungkap Gus Kaustar sekali lagi, sambil tersenyum.

Setelah acara selesai pun santri masih belajar. Belajar merapikan peralatan yang telah dipakai dan menempatkannya kembali ke tempat yang telah disediakan.

Memang, ada sejumlah hal yang tidak bisa dilakukan oleh santri. Misalnya, urusan parkir. Dalam hal ini, PP Mahasina bekerja sama dengan warga sekitar, lembaga sekitar, dan kawasan sekitar agar 5000 jamaah yang hadir, dengan sekitar 2500 kendaraan roda dua dan roda empat dapat tertampung. Tapi, dalam rapat-rapat Panitia, para santri juga diikutkan. Setidak-tidaknya mereka mendengarkan persoalan-persoalan yang muncul dan bagaimana solusinya.

Insya Allah, ketika berada di tengah masyarakat, santri PP Mahasina siap berkiprah dengan baik dan menyumbangkan kemampuannya untuk kemaslahatan umat, bangsa, dan negara.

 

 

 

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Pondok Pesantren Mahasina Darul Qur'an Wal Hadits

Jl. Masjid Raya No 50, Kp. Kemang RT/RW: 01/07, Kelurahan Jatiwaringin, Kecamatan Pondokgede, Kota Bekasi, Jawa Barat 17411