Zubairi Hasan, Pembina Santri Jurnalis PP Mahasina
Malam Selasa, 15 Juni 2026, pukul 20.00 WIB, di Vila Bhakti Pertiwi Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, Cisarua, suasana terasa begitu hening. Angin malam berembus sangat lembut, nyaris tak terasa menyentuh kulit. Dedaunan seolah enggan bergerak. Bahkan suara jangkrik yang biasanya memecah kesunyian malam pun tak terdengar. Dari kejauhan, hanya kelap-kelip lampu yang menghiasi perbukitan, seperti bintang-bintang yang turun ke bumi.
Di bawah rindangnya pohon kenitu—atau sawo hejo dalam bahasa Sunda—sekitar 200 santri Kelas 9 MTs PP Mahasina, Pondok Gede, Kota Bekasi, duduk bersila dengan khusyuk. Gelap memeluk malam, sementara udara dingin menyelimuti tubuh mereka. Namun tak satu pun beranjak. Dengan penuh ketulusan, mereka melantunkan salawat kepada Nabi Muhammad SAW, berzikir, dan memanjatkan doa akhir tahun serta doa Muharam sebagai penanda datangnya Tahun Baru Hijriah 1448.
Di malam itu, dengan diawali salat Maghrib berjemaah, para santri tak hanya meresonansi pergantian kalender, walakin juga berupaya mengetuk pintu hati mereka sendiri untuk merenungi perjalanan hidup, cita-cita, dan masa depan.
*** ***
Sudah lebih dari lima belas abad berlalu sejak Nabi Muhammad SAW melakukan hijrah dari Makkah ke Madinah. Hijrah merupakan perjalanan besar untuk menghadirkan perubahan. Di Madinah, Nabi membangun masyarakat yang menjunjung keadilan, persaudaraan, penghormatan terhadap hak asasi manusia, perlindungan terhadap kaum lemah, serta peradaban yang berlandaskan akhlak mulia.
Semangat hijrah itulah yang ingin ditanamkan kepada para santri Kelas 9 PP Mahasina. Sebentar lagi mereka akan meninggalkan masa-masa MTs dan melangkah menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yaitu Madrasah Aliyah. Mereka bertambah usia dan harus bersiap-siap menjadi pribadi yang lebih matang, lebih bertanggung jawab, dan lebih paham pada dinamika kehidupan,
*** *** ***
Di tengah keheningan malam, Pengasuh PP Mahasina, KH. Abu Bakar Rahziz, MA, menyampaikan pesan yang menyentuh hati para santri. Beliau mengingatkan bahwa setiap anak harus berjuang untuk menjadi kebanggaan orang tua dan guru.
“Bersama PP Mahasina, kalian bisa mempersiapkan diri untuk menggapai cita-cita setinggi mungkin. Kakak-kakak kelas kalian kini sudah berada di berbagai daerah, bahkan di luar negeri. Mereka memulai semuanya dari niat yang baik, kesungguhan belajar, dan kerja keras yang tidak pernah berhenti,” pesan beliau.
Pesan itu bukan sekadar nasihat, melainkan suntikan harapan bagi para santri yang sedang merancang masa depannya.
Bersama Nyai Hj. Badriyah Fayumi, MA, beliau senantiasa mendorong para santri untuk berani bermimpi besar dan mempersiapkannya sejak dini. Sebab PP Mahasina memang hadir untuk menjadi tempat tumbuhnya generasi yang berilmu, berakhlak, dan berprestasi.
*** *** ***
Renungan malam menjadi salah satu agenda paling bermakna selama kegiatan di Vila Bhakti Pertiwi pada 15–16 Juni 2026. Namun perjalanan dua hari itu tidak hanya diisi dengan keseriusan. Ada pula tawa yang pecah dalam kebersamaan, cerita yang menghangatkan persahabatan, dan permainan yang membangun kekompakan. Jangan dilupakan juga: ada renang, bakar jagung, hingga menikmati semangkuk mi hangat di tengah dinginnya udara pegunungan.
Semua dirancang bukan sekadar untuk bergembira, melainkan untuk belajar tentang kehidupan melalui pengalaman yang menyenangkan. Belajar sambil bermain, dan bermain sambil belajar.
Salah satu kegiatan yang cukup menarik adalah “Pohon Kehidupan”. Di sini, salah satunya, para santri menuliskan cita-cita mereka pada sebuah spanduk besar.
Ada Salma yang bercita-cita menjadi dokter tapi juga mampu membaca kitab kuning. Ada Rahmi yang ingin menjadi dokter sekaligus guru ngaji. Ada yang bermimpi menjadi diplomat namun tetap mengajar anak-anak TK. Ada pula yang ingin menjadi pengusaha sukses sekaligus ustaz/ustazah yang membimbing umat.
Kesan apa yang bisa ditangkap dari coretan spontan itu? Cita-cita yang biasa diimpikan para remaja. Tidak. Tidak seperti itu. Di dalam coretan itu tersimpan makna yang sangat mendalam. Mereka tidak hanya ingin sukses untuk dirinya sendiri, tetapi juga ingin tetap menjadi santri yang memberi manfaat bagi orang lain.
Di situlah letak keindahan pendidikan di PP Mahasina. Para santri diajarkan bahwa profesi apa pun dapat menjadi jalan pengabdian. Menjadi dokter, diplomat, pengusaha, guru, atau profesi lainnya tidak boleh memutus identitas mereka sebagai santri yang membawa nilai-nilai keteladanan, keikhlasan, dan kebermanfaatan bagi umat, bangsa, dan negara.
*** *** ***
Malam renungan itu akhirnya menjadi saksi lahirnya tekad-tekad baru. Di bawah langit Cisarua yang gelap dan dingin, para santri sedang mengasah hati, meneguhkan niat, dan mulai menapaki jalan panjang menuju masa depan yang mereka impikan.
PP Mahasina akan terus mendampingi perjalanan mereka. Sebab seluruh ikhtiar yang dilakukan lembaga ini, siang maupun malam, bermuara pada satu tujuan mulia: melahirkan generasi yang istiqamah dalam ibadah dan akhlak, unggul dalam ilmu dan keterampilan, serta mampu berkarya dan berprestasi bagi masyarakat.
Selamat berjuang, para santri Kelas 9 MTs PP Mahasina.
Jangan pernah takut bermimpi besar. Jangan pernah lelah belajar dan berikhtiar. Di setiap langkah kalian, meski harus jatuh bangun, ada doa yang tak pernah putus dari para pengasuh, orang tua, dan guru-guru yang mencintai kalian.
Semoga kelak, ketika kalian menoleh ke belakang, malam hening di bawah pohon kenitu itu menjadi salah satu titik awal yang mengantarkan kalian menuju masa depan yang gemilang.
Tinggalkan Komentar