Pesan Abah di atas disampaikannya menjelang liburan santri cdi Auditorium PP Mahasina, Ahad, 8 Maret 2026. Acara ini diikuti seluruh santri, para guru, dan perwakilan wali santri. Dalam kesempatan ini, perwakilan wali santri juga menyerahkan secara simbolis bingkisan untuk Pengasuh dan para guru.
Kembali ke soal tausiyah menjelang liburan, secara detail Pengasuh PP Mahasina berpesan agar para santri terus menjunjung tinggi nilai-nilai kesantrian, terutama terkait sopan santun dalam berpakaian, berbicara, dan bersikap.

Dalam soal handphone, Abah berpesan agar perangkat itu tidak menjadi berhala yang sesat dan menyesatkan pemiliknya. “Pemerintah saja sudah melarang anak di bawah usia 16 tahun untuk memiliki akun media sosial dan menggunakannya. Apalagi lembaga pendidikan seperti PP Mahasina sudah pasti akan lebih ketat lagi dalam mengatur penggunaan HP,” demikian pesan Abah penuh hikmah.
Karena itu, kepada perwakilan wali santri yang hadir, Abah berpesan agar mereka mengontrol penggunaan HP oleh anak-anaknya.
Abah juga menjelaskan bahwa liburan merupakan hal yang wajar dan dibolehkan dalam ajaran agama Islam. Hal ini sesuai dengan pernyataan Khalifah Ali Bin Abi Thalib bahwa bahwa hati dan pikirian bisa jenuh sebagaimana tubuh bisa lelah. Karena itu, umat manusia dibolehkan untuk mencari hal-hal yang menyegarkan pikiran dan hati, tentu saja tanpa melanggar hukum.
Abah menutup tausiyahnya dengan doa agar seluruh santri dan orang tuanya sehat selalu, rezeki melimpah dan penuh berkah, serta berbahagia di dunia dan akhirat.
Selanjutnya, Abah dan Bu Nyai membagikan santuan untuk santri yang yatim serta santri-santri berasal dari luar Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi. Berapa nominalnya? Rahasia. Tapi warnanya terlihat kebiru-biruan.
Tinggalkan Komentar