Film pendek berdurasi sekitar 20 menit ini mengisahkan tentang sebuah keluarga terdiri dari seorang suami dan seorang istri dengan 2 anak. Kedua anaknya juga sangat berprilaku sopan, baik dari sisi pakaian, ahklak, pergaulan, dan lain sebagainya.
Lalu persoalannya di mana? Persoalannya adalah kedua anak itu sibuk dengan karier masing-masing di luar rumah.
“Lho, mau kemana?” tanya si ibu saat melihat anaknya keluar kamar dengan pakaian rapi. “Ibu, Ayah, saya mau bukber sama teman-teman kantor,” ungkap si anak sambil mencium tangan ibunya. “Ya udah bu, kita buka puasa berdua saja,” ungkap suami dengan senyum eccedentesiast, senyum yang menyimpan kegetiran.
Akhirnya, si suami istri yang sakinah itu makan berdua saja, dengan kegembiraan yang dipaksakan, karena di dalam hatinya yang paling dalam, mereka ingin makan bersama, sebagaimana juga ingin bermain bersama anak-anak, seperti mereka waktu kecil dahulu.
Cibiran tetangga pun mewarnai kehidupan kedua anak itu. “Mau kemana ning? Temenin tuh emaknya. Masih ada orang tua juga malah senang ngelayap,” demikian kira-kira ungkapan seorang ibu julid secara sarkartis. Namun si anak menjawab dengan ketus, tanpa rasa bersalah: “Ya bu, ada acara di kantor. Duluan ya bu!”, jawab si anak dengan penuh sopan santun, namun memendam keangkuhan dan kesombongan.
“Ya bu, saya kangen berkumpul sama anak-anak seperti dulu waktu mereka kecil,” demikian ungkap si Bapak membuka obrolan saat mereka buka puasa bersama. “Ya pak, rumah ini terasa sepi tanpa anak-anak,” Jawab si Ibu. Mereka pun tetap menikmati hidangan berdua saja, disertai rasa sungkan untuk mengutarakan persoalannya kepada kedua anaknya, kuatir akan merusak kebahagian mereka di tempat kerjanya.

Film pun memberikan gambaran secara kilas balik, di mana anak-anak mereka masih kecil, makan pisang goreng kesukaan, main kapal-kapalan dari kertas, dan lain sebagainya yang menggambarkan betapa bahagianya mereka saat mereka bersama dan meramaikan sebuah rumah yang penuh kenangan.
Keluarga muda ini, dengan dua anak yang masih kecil, mengajarkan bahwa kebahagiaan bisa tercipta secara sederhana, melalui kebersamaan yang penuh makna, bukan dengan kemewahan dan hedonisme.
Layar film selanjutnya mengisahkan pertemuan si anak dengan seorang teman tapi orang tuanya ada di negeri Upin-Ipin, Malaysia. “Idih, I (ai) iri sama you yang masih punya orang tua. I pasti akan bersama mereka terus,” ungkapnya dengan eufimistis, namun menghujam ke relung hati yang paling dalam.
Frame film berikutnya mengisahkan kebersamaan antara dua kakak beradik yang meski menghadapi kesulitan ekonomi sehingga harus berjualan air minum di pinggir jalan, tapi tetap hidup bahagia, bercanda dan tertawa bersama.
Pernyataan teman yang orang tuanya harus bekerja di Malaysia, kisah kedua kakak beradik, buku harian, serta foto keluarga saat mereka masih kecil akhirnya membuat kedua anak tadi sadar bahwa mereka telah mengabaikan kebersamaan dengan kedua orang tuanya. Mereka pun minta maaf kepada sang ibu. Air mata pun mengalir tipis dari mereka, juga dari sebagian penonton.
Film diakhiri dengan suasana rumah yang penuh dengan kegembiraan karena ada kebersamaan yang telah datang kembali. Kebahagiaan hanya membutuhkan kebersamaan, bukan harta dan tahta.
Film ditutup dengan pesan: “Kadang kita terlalu sibuk mengejar dunia, hingga lupa pada rumah yang selalu menunggu. Ada Ayah yang diam menahan rindu, ada Ibu yang tak pernah lelah berdoa. Mereka tidak meminta banyak, hanya ingin melihat anaknya pulang. Selama mereka masih ada, sempatkan untuk kembali dan berbakti!”.
Juga dengan pesan: “Pulanglah, bukan hanya ke rumah, tapi juga ke hati ayah dan ibu!”
Ini film bukan karya sineas ternama Rano Karno atau Garin Nugroho. Film ini juga tidak dibintangi pemain ternama seperti Christine Hakim atau Nicolas Saputera. Film ini karya santri PP Mahasina dari Kelas 11 sampai Kelas 7. Menggunakan Handphone, bukan kamera mirrorless yang harganya merobek kantong. Juga dikerjakan dalam “tempo yang sesingkat-singkatnya.” Namun hasilnya “Luar Biasa!”.
Proses transisi berjalan mulus, pemilihan musik keren, penggunaan properti juga tepat. Penggunaan alur kilas balik bejalan dengan baik. Hanya ada satu hal terasa kurang. Kedua anak tak bersalaman dengan Ayah saat pamitan keluar rumah, sebagaimana juga tak berpelukan dengan Ayah saat mereka mengakui kesalahan.
Penonton harap maklum. Film ini digarap di pesantren. Jadi ada norma tertinggi tak boleh dilanggar: “laki-laki bukan muhrim tak boleh bersalaman, apalagi berpelukan. Hukumnya haram”, demikian ungkap Ustazah Yusriah yang intens memantau penyelesaian film ini.
Apresiasi
Lifia F: Ibu, Amreeh S: Ayah, Nabila Clarissa: Anak I (Lula), Hasna Kamila: Anak II (Ira), Dwi: Lula Kecil, Kaysa Aulia: Ira Kecil, Jihan: Ibu Julid, Asyifa M: Ibu Julid, Ghina: Alya (Teman Lula), Nazlah K: Feli (Teman Lula), A Zamzani: Penjual Air, Lucky Ibrahim: Kakak Penjual air. Director: Yusriyah S, Videografer: Quirina S, Scriptwriter: Atacha N, Marcella, Almira Javier, Storyboard: Aisyah Nur, Savira Mafaza, Editor: Aqiela Z, Nazlah N, Quirina S, Crew: Syakira H, Nazlah K, Alikha, Fatya Zulfa
Tinggalkan Komentar