Info Pesantren
Sabtu, 20 Jun 2026
  • Pendidikan Terintegrasi Kader Ulama- Pemimpin Berakhlak Qur'ani Berwawasan Kebangsaan
  • Pendidikan Terintegrasi Kader Ulama- Pemimpin Berakhlak Qur'ani Berwawasan Kebangsaan
19 Juni 2026

Di bawah Sengatan Mentari, Para Alumni Bertekad Sinari Kehidupan

Jum, 19 Juni 2026 Dibaca 82x Acara

Feature oleh Zubairi Hasan, Pembina Tim Media PP Mahasina

Foto oleh Quirina Salsabil Fardita, Santri Kelas 10 MA Mahasina

 

Cisarua, 17 Juni 2026, pukul 07.00 WIB. Matahari perlahan menghangatkan bumi setelah semalaman udara dingin menyelimuti perbukitan. Kabut yang sejak dini hari menggantung di antara pepohonan mulai menipis. Alam seolah sedang mempertontonkan pergantian yang abadi: malam pergi, siang datang. Sebuah perpisahan yang selalu berulang dalam kehidupan.

Alunan musik instrumental terdengar pelan. Pengasuh PP Mahasina, KH. Abu Bakar Rahziz, MA, bersama Nyai Hj. Badriyah Fayumi, MA, diiringi para guru, menuruni enam anak tangga Vila Bhakti Pertiwi Kementerian Pertahanan, Cisarua. Keduanya berjalan menuju lapangan terbuka tempat para wali santri duduk rapi.

Para khirrijin dan khirrijat—para santri kelas 12 yang hari itu resmi menyandang status alumni, juga menuruni tangga yang sama, lalu berdiri di hadapan para wali santri, menghadap ke timur, menatap langsung ke arah matahari yang terus meninggi. Sebagian tampak tenang, sebagian lain menyembunyikan kegelisahan. Setelah bertahun-tahun hidup dalam ritme pesantren, hari itu mereka sedang berdiri di ambang gerbang kehidupan yang baru.

 

*** *** ***

Prosesi wisuda berlangsung khidmat. Pembacaan ayat suci Al-Qur’an, lagu Indonesia Raya, Syubbanul Wathan, pidato tiga bahasa, hingga pemberian ijazah mengalir satu demi satu. Namun, seperti lazimnya sebuah perpisahan, yang paling berkesan bukanlah urutan acara, melainkan perasaan yang diam-diam tumbuh di antara para hadirin.

Mahsa Keyla Kamal dalam bahasa Inggris, Tasya Nurandiani Arzaqi dalam bahasa Arab, dan Abysa Maula Kurnia dalam bahasa Indonesia menyampaikan permohonan maaf kepada para pengasuh, orang tua, dan guru. Mereka mengakui kenakalan-kenakalan masa remaja yang mungkin pernah menyisakan luka dan kekhawatiran.

Di ujung pidato, mereka memohon satu hal yang sama: doa, agar langkah mereka tetap berada di jalan yang diridhai Allah dan cita-cita yang mereka impikan dapat tercapai.

Di barisan depan sebelah kiri, Ustazah Nikhlatul Mubarakah duduk dengan tenang. Sesekali tangannya melepas kaca mata, lalu mengangkat tisu ke sudut mata. Musyrifah santri putri kelas 12 itu berusaha menyembunyikan haru yang tak sepenuhnya bisa ditahan.

Satu per satu wajah anak didiknya dipandang dengan saksama. Bagi banyak orang, hari itu hanyalah acara doa perpisahan. Namun bagi seorang guru, hari itu adalah perpisahan dengan anak-anak yang telah bertahun-tahun dibimbing, dinasihati, dan ditemani agar tumbuh dan berkembang. Ada kenangan tentang pelajaran yang tertinggal, tentang nasihat yang berulang kali harus diucapkan, tentang tawa, tangis, kesalahan, dan perbaikan yang dilalui bersama. Kini mereka akan pergi.

Lebih berat lagi, hari itu juga menjadi momen perpisahan Ustazah Nikhlah dengan keluarga besar PP Mahasina. PP Mahasina adalah keluarga, sementara orang tua yang melahirkan dan membesarkan juga keluarga. Bagaimana jika kita harus memilih? Ustazah Nikhlah harus dan telah menentukan takdirnya sendiri. Sebuah keputusan hidup yang sangat berat.

Seperti Al-Khawarizmi yang pendiam namun meninggalkan legasi berupa matematika Algoritme yang sampai kini masih menjadi andalan berbagai platform media sosial untuk berkembang, Ustazah Nikhlah menjalani perpisahan itu dengan tenang, dengan legasi ilmu Matematika dan ilmu Hadist  yang ditanamkan kepada santri, meski harus di luar sekolah. Senyumnya tetap mengembang, tetapi kesedihan tak sepenuhnya bisa disembunyikan.

Di sisi lain lapangan, Ustaz Thomiur Ridho menatap para santri putra yang selama ini berada dalam bimbingannya. Di bawah terik matahari yang mulai menyengat, pandangannya seolah menyimpan banyak pertanyaan yang tak terucap. Akankah mereka tetap menjaga salatnya? Akankah mereka tetap mencintai ilmu? Akankah mereka istiqamah mengamalkan ajaran yang selama ini dipelajari dari puluhan kitab kuning?

Tidak semua santri akan menjadi juara lomba baca kitab tingkat nasional seperti dirinya. Namun bagi seorang guru, keberhasilan terbesar adalah ketika murid-muridnya tetap menjaga iman dan akhlaknya di tengah kehidupan yang semakin kompleks. Dalam konteks ini, piala dan selembar kertas sertifikat menjadi tidak penting.

Keraguan yang manusiawi mulai mereda ketika Brillian Muhammad Fikri Bersama beberapa kawannya memimpin pembacaan ikrar alumni secara Bersama-sama. “Kami berjanji dan bertekad untuk menjaga nama baik keluarga, pesantren, dan agama,” ungkapnya penuh semangat.

 

*** *** ***

Saat memberikan taujihat, KH. Abu Bakar Rahziz menyampaikan pesan yang langsung menyentuh kalbu. “Kalian boleh keluar dari pintu gerbang PP Mahasina, tetapi jangan sampai nilai-nilai pesantren keluar dari hati kalian.”

Pesan itu disampaikan dengan tegas, tetapi sarat kehangatan seorang ayah kepada anak-anaknya. Beliau juga mengingatkan bahwa pondok akan selalu menjadi rumah bagi para alumni. “Pintu gerbang PP Mahasina akan selalu terbuka untuk kalian. Datanglah ketika libur atau ketika hati mulai lelah. Isi kembali jiwa kesantrian agar tetap kuat,” pesannya.

Menjelang pukul 10.00 WIB, doa perpisahan selesai dipanjatkan. Lapangan yang sebelumnya dipenuhi suasana khidmat berubah menjadi lautan pelukan dan senyum. Para alumni bergantian berfoto bersama orang tua, guru, dan sahabat seperjuangan. Sebagian tertawa, sebagian menitikkan air mata, sementara yang lain memilih menyimpan harunya dalam diam.

Tak lama kemudian, rombongan bersiap kembali ke rumah masing-masing di Jakarta, Bekasi, Jawa, bahkan juga ke wilayah lain di luar Jawa.

Seperti pergantian siang dan malam yang terjadi setiap hari, kehidupan pun terus bergerak cepat. Selalu ada yang datang sebagaimana juga ada yang pergi.

Walakin, perpisahan tak pernah benar-benar menyakitkan ketika hati dipenuhi rasa syukur, ketika kesalahan telah saling dimaafkan, dan ketika doa terus menghubungkan mereka dari kejauhan.

Di bawah sengatan mentari, para alumni sedang merajut masa depannya yang cerah, seperti sinar mentari di pagi hari itu: bercahaya menerangi alam semesta.

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Pondok Pesantren Mahasina Darul Qur'an Wal Hadits

Jl. Masjid Raya No 50, Kp. Kemang RT/RW: 01/07, Kelurahan Jatiwaringin, Kecamatan Pondokgede, Kota Bekasi, Jawa Barat 17411