Pengasuh PP Mahasina, Pondok Gede, Kota Bekasi, KH. Abu Bakar Rahziz, MA berharap agar Pelatihan Membaca Kitab Kuning secara Cepat dan Menyenangkan dengan Metode Mumtaz selama sepekan dapat menghasilkan santri-santri yang mumtaz. “Metodenya aja bernama Mumtaz, semoga menghasilkan santri-santri yang mumtaz,” demikian ungkap Abah dengan penuh doa, saat secara resmi membuka Pelatihan Membaca Kitab Kuning dengan Metode Mumtaz, Rabu, 10 September 2025 di Auditorium PP Mahasina.

“Mumtaz” adalah kata bahasa Arab yang berarti “istimewa,” “unggul,” atau “sempurna”. Kata ini dapat digunakan untuk menunjukkan kualitas atau prestasi luar biasa, seperti predikat nilai dalam dunia pendidikan. Dalam konteks akademik, Mumtaz biasanya disamakan dengan predikat summa cumlaude yang berarti “kehormatan tertinggi” dan dicapai dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna atau 4.00, yang menunjukkan semua mata kuliah diselesaikan dengan nilai A dan tanpa gagal.

Lebih lanjut Abah menegaskan bahwa santri yang belajar agama Islam harus bisa membaca kitab-kitab berbahasa Arab, karena memang sumber-sumber utama Islam tertulis dalam bahasa Arab.
Banyak orang bilang bahwa pelajaran Bahasa Arab dan tata bahasanya sangat sulit dan menjadi momok yang menakutkan. Kenyataannya, kalau ditekuni dan dipelajari dengan sungguh-sungguh, santri bisa memahami dengan baik. “Nah, dengan Metode Mumtaz yang akan kita pelajari selama seminggu ke depan, kita akan sadar bahwa pelajaran Bahasa Arab dan kaidah-kaidahnya sangat menyenangkan,” ungkapnya memberi pesan kepada santri.
Sementara itu, Prof. Dr. Alimin Mesra, M.Ag mengaku senang dan bahagia berada di PP Mahasina, apalagi ikut berkonstribusi pada pengembangan keilmuan di lembaga ini. Pesantren merupakan lembaga untuk belajar ilmu agama. . “Apalagi saya juga merupakan wali dari santri yang mondok di PP Mahasina,” ungkapnya sambil tersenyum dan disambut dengan meriah oleh para peserta pelatihan Metode Mumtaz.
Karena itu, lanjut Profesor Alimin, santri harus belajar sumber utama umat Islam, yaitu al-Qur’an dan al-Hadist, yang kemudian berkembang menjadi berbagai macam keilmuan. “Nah, semua kitab-kitab itu tertulis dalam Bahasa Arab,” demikian ungkap professor asal Sulawesi Selatan ini sembari memberi motivasi kepada para santri untuk belajar Bahasa Arab.
Acara Pelatihan Metode Mumtaz berlangsung selama seminggu secara penuh waktu, mulai habis Shubuh sampai Jam 22.00.
Pada hari pertama, para santri Kelas 9 MTs dan Kelas 10 MA Mahasina mengikuti acara ini dengan antusias, karena pelajaran disajikan dalam bentuk lagu-lagu yang menyenangkan dan menggembirakan, sehingga tanpa terasa, waktu berjalan dengan cepat.
Link berita terkait https://pesantrenmahasina.com/pp-mahasina-siap-laksanakan-pelatihan-kitab-kuning-dengan-metode-mumtaz/
Tinggalkan Komentar